Misteri Tanjakan Emen dan Dugaan Penyebab Elf Terguling, Lokasinya Sama dengan Kecelakaan Bus Maut
Kecelakaan tunggal itu terjadi tepat di lokasi kejadian kecelakaan bus maut yang menyebabkan 27 orang meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Penulis: Ardhi Sanjaya | Editor: Ardhi Sanjaya
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- 16 orang menderita luka akibat kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Emen, Kampung Cicenang, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Senin (11/3/2018).
Menurut Kasat Lantas Polres Subang AKP Budhy Hendratno korban terdiri dari empat korban luka berat dan 12 luka ringan.
"Kecelakaan tunggal. Semua korban penumpang mini bus. Korban telah dalam penanganan medis," katanya.
Melansir Tribun Jabar Rata-rata korban mengalami luka sobek di bagian tangan dan kaki, serta beberapa orang ada yang mengalami patah tulang.
Kecelakaan tunggal itu terjadi tepat di lokasi kejadian kecelakaan bus maut yang menyebabkan 27 orang meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Mini bus yang dikendarai oleh Arif Fahruroji (32) itu terguling di lokasi.
Para penumpang mini bus itu baru saja berwisata di Gunung Tangkuban Parahu. Mobil melaju dari arah Lembang menuju Subang.
"Berangkat dari lokasi wisata Gunung Tangkuban Parahu, dalam perjalanan pulang menuju Kabupaten Indramayu," sebutnya.
Tidak ada korban meninggal dunia akibat musibah yang terjadi di jalan yang baru saja di ganti menjadi Tanjakan Aman itu.
Seluruh korban kini telah dibawa ke RSUD Subang untuk penanganan medis lebih lanjut.
Dugaan awal, kata AKP Budhy supir kendaraan Isuzu Elf berplat nomor E-7548-PB, Arif Fahruroji (32) diduga hilang konsentrasi.
"Saudara Arif Fahruroji kehilangan konsentrasi, sehingga kendaraan melaju tidak terkendali, oleng ke kiri keluar dari badan jalan," kata Budhy menurut laporan yang diterima Tribun Jabar.

Budhy mengatakan bahwa kondisi mini bus elf berwarna putih yang mengalami kecelakaan dalam kondisi bagus.
Cuaca pada saat kejadian cerah dan arus lalu lintas sedang.
Tanjakan Emen sendiri masih kental dengan cerita legendarisnya.
Malah hingga kini warga maupun pengendara masih melakukan tradisi buang rokok setiap melintas di Tanjakan Emen.
Mitos mistis tersebut kerap dikait-kaitkan dengan rentetan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut.
Baca: Tak Hanya Tanjakan Emen, Ini Daftar 8 Tanjakan Maut Di Indonesia, Salah Satunya Di Puncak Bogor
Jika dari arah Subang disebut tanjakan Emen, dari Bandung disebut turunan Emen.
Mitos mistis itu kemudian melahirkan tradisi. Warga melintas membuang rokok di sepanjang jalan turunan atau tanjakan Emen.
Tradisi itu kata Dedi (45) warga Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu.
"Sudah dari dulu tradisi itu mah," ujarnya.
Persis di lokasi kejadian tabrakan, Tribun Jabar melihat langsung seorang perempuan dibonceng di sepeda motor yang melemparkan sebatang rokok. Saat itu, Tribun Jabar sempat saling memandang dengan perempuan tersebut.
Baca: 10 Tahun Jagain Jodoh Orang, Kisah Asmara Pria Ini Pacaran Dari 2008 Endingnya Nyesek
Setelah dibuang, bibir perempuan tersebut tampak membaca sesuatu kemudian berlalu.
Saat dicek, rokok yang dibuangnya berupa rokok putih.
Tribun Jabar menyusuri pinggiran lokasi kejadian. Tampak sejumlah rokok baru bertebaran. Sedikitnya ada lima hingga tujuh batang rokok baru atau tidak ada bekas dibakar.

Dedi mengatakan, tradisi membuang rokok yang konon katanya untuk buang sial itu masih dilakukan hingga saat ini.
"Di sepanjang turunan saja dari Tangkuban Perahu sampai Kampung Aster. Kadang kalau rokoknya masih bagus kami ambil, kalau dikumpulkan bisa dapat satu bungkus," ujar Dedi.
Asal usul nama Tanjakan Emen pun sudah diperbincangkan sejak lama oleh warga.
Ada beberapa versi soal asal-usul nama Tanjakan Emen ini.
Baca: 2 Jam Lebih, Kakak Ipar Menunggu Kepastian Kabar Sri Rohayati, Penumpang Bus di Tanjakan Emen
Dikutip dari kotasubang,com, nama Emen diambil dari seorang nama kernet bus yang tewas karena kecelakaan yang terjadi sekitar tahun 1969.
Saat itu, bus bernama Bus Bunga mengalami mogok di tanjakan tersebut.
Emen sang kernet berusaha mengganjal ban, namun nahas remnya ternyata blong sehingga Emen terseret bus dan tewas.
Setelah kejadian itu, tanjakan tersebut dikenal dengan Tanjakan Emen.
Lalu, versi kedua, Emen adalah seorang korban tabrak lari di tanjakan itu.
Baca: 10 Tahun Jagain Jodoh Orang, Kisah Asmara Pria Ini Pacaran Dari 2008 Endingnya Nyesek
Dalam mitos menceritakan mayat Emen bukanya ditolong, malah disembunyikan di dalam rimbunan pepohonan tersebut.
Sejak saat itulah arwah Emen dipercaya menuntut balas.
Versi yang ketiga, dikisahkan bahwa dulu Emen adalah seorang sopir oplet Subang – Bandung.
Nahas bagi Emen ketika itu tahun 1964 oplet yang dikendarainya kecelakaan dan terbakar.
Banyak orang mengatakan Emen tewas di tempat kejadian, dan sejak saat itu semakin sering terjadi kecelakaan di sana.
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan banyak pengendara yang percaya dengan melempar koin, rokok atau menyalakan klakson maka mereka akan terhindar dari bahaya saat melewati tanjakan Emen.
Baca: Belum 24 Jam Tulis Firasat Soal Kematian, Agus Waluyo Tewas Ditabrak Bus Maut Di Tanjakan Emen
Berdasarkan hasil penelusuran hingga ke keluarga Emen dapat diketahui ternyata versi yang terakhir yang mendekati kebenaran.
Wahyu, pria yang mengaku anak dari Emen membenarkan peristiwa itu, namun ia menepis berbagai kejadian kecelakaan yang terjadi di sana diakibatkan oleh arwah Emen yang gentayangan.
“Lagi pula waktu itu bapak saya tidak meninggal di sana, tapi di Rumah Sakit Ranca Badak,” ujar Wahyu yang juga berprofesi sebagai sopir angkot di daerah Lembang.
“Waktu itu saya berusia kira-kira 8 tahun. Bapak saya memang sopir oplet Subang – Bandung, ketika itu kemungkinan remnya blong, kemudian opletnya nabrak tebing, terbalik kemudian terbakar. Seingat saya cuma 2 orang yang selamat waktu itu,” lanjutnya.
Setelah wafat di Rumah Sakit kemudian jenazah Emen dimakamkan di pemakaman umum di daerah Jayagiri, Lembang.
Di balik mitos yang berseliweran itu, kenyataannya kalau kondisi Tanjakan Emen memang rawan terjadi kecelakaan.
Kondisi tanjakan emen sepanjang 2-3 km ini sangatlah ekstrim, memiliki kemiringan 40-50 derajat dan memiliki tikungan – tikungan tajam, hal ini tentunya akan menyulitkan bagi yang kurang piawai memegang kemudi.
Untuk itu, sebaiknya setiap pengendara yang melintas harus ekstra hati-hati dan jangan lupa berdoa di sepanjang perjalanan.