Bisa Mencapai 38 Ribu Kaki, Tradisi Terbangkan Balon Udara Berbahaya Bagi Pesawat

balon yang diterbangkan itu mencapai ketinggian 38.000 kaki, dan bisa membuat mesin pesawat mati jika terkena mesin pesawat.

Bisa Mencapai 38 Ribu Kaki, Tradisi Terbangkan Balon Udara Berbahaya Bagi Pesawat
KOMPAS.com/Sudarmanto
Kapolres Ponorogo, AKBP Radiant menunjukkan 30 balon udara yang disita dalam operasi gabungan pada lebaran ketiga, Minggu ( 17/6/2018) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ketua Ikatan Pilot Indonesia, Kapten Ari Sapari mengatakan tradisi Lebaran menerbangkan balon udara di beberapa daerah di Jawa Tengah, sangat berbahaya bagi penerbangan pesawat.

Karena balon yang diterbangkan itu mencapai ketinggian 38.000 kaki, dan bisa membuat mesin pesawat mati jika terkena mesin pesawat.

"Kalau sampai masuk mesin pesawat itu sangat berbahaya. apalagi kalau itu sampai membelit di kendali pesawat, itu akan stuck, memang itu sangat membahayakan," ujarnya kepada TribunJakarta.com, Minggu (17/6/2018).

Ari juga mempersoalkan hal ketinggian balon udara yang melanggar ketentuan tinggi maksimal peraturan balon udara setinggi 3000 kaki.

Terlebih ukuran balon yang mencapai diameter 5x7 meter, yang sangat berpotensi besar merusak mesin pesawat saat terbang.

Baca: Warga Sulawesi Tewas Dimangsa Piton, Panji Petualang Beberkan Faktor 5 Penyebabnya

"Di dunia ini balon udara dibatasi ketinggiannya hanya tiga ribu kaki. Jadi, dengan ketinggian tidak terkontrol 38 ribu kaki itu sangat membahayakan," katanya.

"Kita sampaikan diameter dari balon udara tradisional yang dibikin oleh masyarakat di Jawa itu diameternya 5x7 meter, tingginya 7 meter, terbuat dari kain," ujarnya.

Ari memaparkan gangguan balon udara ini sudah terjadi sejak tanggal 14 Juni 2018, aparat kepolisian dan TNI serta Pemerintah daerah sudah bergerak mensosialisasikan dan mengamankan sejumlah balon udara.

Namun berdasarkan laporan yang ia dapatkan hari ini, masih ditemukan satu balon udara pada ketinggian 28.000 kaki.

Ari mengimbau kepada masyarakat agar tidak menerbangkan balon udara secara liar karena dapat mengganggu penerbangan yang bisa berdampak pada masyarakat itu sendiri.

(TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir)

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved