Ditanya Soal Kemacetan Oleh Mahasiswa, Bima Arya Singgung DPRD Kota Bogor

Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa hambatan utama dari permasalahan transportasi di Kota Bogor adalah tidak berjalannya skenario konversi angkot.

Ditanya Soal Kemacetan Oleh Mahasiswa, Bima Arya Singgung DPRD Kota Bogor
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
diskusi dengan alianse BEM se-Kota Bogor di Balaikota Bogor, Kamis (25/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyinggung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor saat menjabarkan permasalahan terkait transportasi di Kota Bogor.

Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa hambatan utama dari permasalahan transportasi di Kota Bogor adalah tidak berjalannya skenario konversi angkot.

Bima juga menyinggung tidak disetujuinya pengajuan dana subsidi sebesar Rp 80 miliar oleh DPRD Kota Bogor.

"Begini kemarin teman-teman dengar faktor subsidi yang ditolak jadi gini, kita menganggarkan di APBD untuk subsidi agar badan hukum ini bisa beroperasi, untuk apa? Untuk bayar gaji supirnya misalnya untuk operasional dan lainnya agar mereka tidak berhenti sembarangan agar tidak macet, proposal kita yang ditolak itu 80 miliar waktu itu ada perdebatan soal landasan hukumya padahal enggak ada, di Semarang itu ada subsidi itu diberikan kepada Wagub semarang tapi teman teman dewan tidak yakin," ujarnya saat diskusi dengan alianse BEM se-Kota Bogor di Balaikota Bogor, Kamis (25/4/2019).

Selain itu kata Bima hambatan lainnya adalah terkait skema 3-1 dan 3-2 yang artinya tiga angkutan kota di ganti dengan satu bus dan tiga angkutan kota diganti dua bus berukuran kecil.

"Ini paling yang tidak puas, ini program paling nomer satu tapi berjalan tidak maksimal, karena memang hambatannya berat, apa hambatannya, hambatannya adalah pada skenario, skenarionya adalah angkot dijadikan bus transpakuan berdasarkan program kita skemanya itu adalah tiga angkot menjadi satu bus atau tiga angkot menjadi dua bus kecil, jadi yang kemarin ramai tentang angkot modern itu sebenarnya itulah bus kecil tadi tapi pihak badan hukumnya menginisiasi dibuatlah angkot modern dan lain sebagainya, Kemudian ada persoalan di lapangan sampai sekarang belum tuntas karena ada tafsiran merebut trayek ini dan sebagainya walaupun seharusnya itu tidak terganggu juga karena sekaeang belum operasi dan angkot itu bukan angkot kita itu angkot organik," katanya.

Bima juga menjelaskan bahwa skema awalnya itu adalah operasional bus menggubakan subsidi.

Namun karena tidak adanya kecuran subsidi yang disetujui, program konversi pun belun berjalan.

"Jadi skemanya adalah pengadaan busnya mereka menyediakan melalui leasing atau kita bantu kalau ada tapi titik utamanya adalah subsidi, Kalau ini jalan berkuranglah angkot kita yang ada di Kota Bogor, saya berharap subsidi ini gol kalau subsidi itu dikucurkan ototmas kita ini akan jalan berjalanlah itu semua,Jadi ada dua pointya pengadaan busnya dan subdsidinya itu, kita harus kaji lagi kalau skenarionya masih bisa jalan kita jalankan tapi kalau enggak kita ubah strateginya posisisnya dimana kita evaluasi," katanya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved