Terapi Oksigen Hiperbarik RSAL Mintohardjo Juga Digunakan untuk Penyelam

Hiperbarik adalah terapi pengobatan dan kesehatan yang menggabungkan oksigen murni dan tekanan udara 1,3-6 atmosfer

Tayang:
Kompas/Lasti Kurnia
Sejumlah penyelam bersiap mengenakan masker yang menyalurkan 100 persen oksigen murni di chamber atau ruang udara bertekanan tinggi, Hyperbaric Centre, Rumah Sakit TNI AL, Dr. Mintohardjo, Jakarta, Rabu (31/6) lalu. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, JAKARTA - Musibah yang terjadi di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Mintohardjo, Senin (15/3/2016) masih menyisakan duka yang mendalam bagi para korban yang meninggal dalam kejadian tersebut.

Empat orang meninggal dalam musibah kebakaran tersebut, yaitu Irjen Pol (Purn) Abubakar Nataprawira, Ketua Umum PGRI Sulistyo, Dimas dan Edi Suwardi Suryaningrat

Menurut Kadispen TNI AL Laksamana Pertama M Zainudin, kebakaran terjadi akibat korsleting listrik di ruang tabung chamber Pulau Miangas, Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) RSAL Mintohardjo.

Pasien yang ada di dalam tabung hiperbarik terbakar dan tidak dapat diselamatkan. 

Para korban adalah pasien yang sedang menjalani salah satu terapi terbaik yang ada, terapi oksigen dengan menggunakan alat bernama hiperbarik. Lalu, apa itu terapi hiperbarik?

Hiperbarik adalah terapi pengobatan dan kesehatan yang menggabungkan oksigen murni dan tekanan udara 1,3-6 atmosfer (ata) di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) alias hyperbaric chamber.

Berbeda dengan oksigen biasa yang diangkut darah, oksigen bertekanan udara tinggi mudah larut ke seluruh jaringan tubuh yang ada cairan, dari darah, sistem getah bening, saraf, hingga tulang.

Semakin banyak oksigen terserap, akan semakin baik bagi kemandirian tubuh dalam memperbaiki jaringan yang rusak.


Kompas/Lasti Kurnia 

Terapi hiperbarik juga biasa dilakukan oleh para penyelam atau orang yang punya hobi menyelam.

Mochamad Achir, presenter stasiun TVSCTV, adalah salah satu yang pernah melakukan terapi ini untuk kepentingan penyelaman.

"Jadi, terapi hiperbarik dilakukan sebelum dan sesudah kita menyelam. Tujuannya untuk menetralkan kadar nitrogen dalam darah dan melatih tekanan udara ke tubuh kita. Terapi dilakukan sekitar 15-30 menit," katanya.

Terapi hiperbarik mengurangi risiko pengurangan tekanan udara atau "the bends" yang terjadi akibat gelembung gas nitrogen mulai terbentuk di paru-paru dan aliran darah ketika penyelam naik ke permukaan air.

Akibatnya, darah yang mengalir bisa terhalang dan merusak pembuluh darah.

Sebelum melakukan terapi, Achir diminta untuk melakukan dua kali pemeriksaan kesehatan.

Pasalnya, untuk bisa melakukan terapi hiperbarik, orang yang bersangkutan harus dalam kondisi sehat, tekanan darah harus normal, dan tidak ada kelainan gendang telinga.

Di dalam ruang terapi yang berbentuk kapal selam, peserta terapi diharuskan memakai masker oksigen.

Ketika mesin dinyalakan, akan terasa tekanan udara yang lebih tinggi dibanding tekanan udara di ruang biasa.

Bayangkan seperti saat Anda naik pesawat atau berada di dalam air, saat itu tekanan udara berangsur tinggi dan telinga terasa mampat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved