Bogor Banjir dan Longsor

Banjir di Caringin, Bupati Bogor Belum Menegur Operator Tol Bocimi

Pembangunannya juga belum selesai. Kalau ada yang merugikan masyarakat, kami melakukan pendekatan melalui camat setempat

Penulis: Damanhuri | Editor: Vovo Susatio
TribunnewsBogor.com/Damanhuri
Rumah penduduk di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat rusak diterjang banjir yang melanda daerah ini pada Minggu (13/3/2016) pagi 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Damanhuri

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Bupati Bogor Nurhayanti belum memiliki rencana menegur operator yang mengerjakan proyek Tol Bogor Ciawi Sukabumi (Bocimi) terkait banjir yang melanda daerah Caringin, Kabupaten Bogor.

Pekan lalu, banjir menerjang permukiman penduduk di Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Minggu (13/3/2016) pagi.

Dalam peristiwa ini, tujuh orang warga sempat hanyut terbawa arus air yang melanda desa.

Warga menilai banjir ini terjadi sebagai dampak dari proyek pembangunan Tol Bocimi

Saat ditemui wartawan di GOR Pakansari, Kamis (17/3/2016), Bupati Bogor Nurhayanti menyatakan pihaknya mengimbau operator pembangunan Tol Bocimi untuk lebih berhati-hati.

"Kita hanya mengimbau saja kepada pelaksana untuk mengantisipasi segala kemungkinan," ujar Nurhayanti kepada wartawan.

Apa ada rencana menegur operator pembangunan Tol Bocimi? Nurhayanti mengatakan tidak melakukan langkah tersebut.

"Pembangunannya juga belum selesai. Kalau ada yang merugikan masyarakat, kami melakukan pendekatan melalui camat setempat," kata Nurhayanti.

TribunnewsBogor.com, Minggu (13/3/2016) lalu, mendatangi Kampung Limusnunggal RT 02/05 Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan mendapat cerita dari warga terkait banjir yang melanda permukiman mereka.

Menurut warga, banjir menerjang rumah-rumah penduduk begitu cepat pada Minggu pagi, sekitar pukul 09.45 WIB.

Seorang warga, Apep (45) mengatakan, operator proyek pembangunan Tol Bocimi beberapa waktu lalu membangun sebuah jembatan di atas aliran Sungai Cukangaleuh yang melintasi Desa Ciherang Pondok.

Jembatan berlapis tanah itu menjadi perlintasan bagi alat berat dan kendaraan proyek dari jalan Desa Ciherang Pondok di seberang sungai menuju lokasi pembangunan tol Bocimi.

Jembatan ini memiliki gorong-gorong di bawahnya sehingga tetap bisa dialiri Sungai Cukangaleuh.

Warga menduga jembatan itu tergerus air sungai hingga tanahnya runtuh pada Minggu (13/3/2016)pagi.

Sungai Cukangaleuh sempat terbendung runtuhan tanah jembatan.

Namun, akhirnya air menjebol penghalang dan mengalir deras hingga sampai ke permukiman warga yang lokasinya sekitar 500 meter dari jembatan.

Banjir pada mulanya menerjang rumah warga bernama Ujang dan rumah Majelis Ta'lim Ibnu Marjuk yang terletak di bagian belakang kediaman Ujang.

"Pak Ujang sama istrinya terseret sampai ke bawah jembatan sana, dia pegangan di batang bambu yang ada di bawah jembatan itu," kata Apep.

Omay (37), tetangga Ujang, sempat berlari menolong Ujang dan istri yang saat itu hanyut hingga tersangkut di bawah jembatan Kampung Limusnunggal.

"Korban tersangkut di bawah jembatan desa. Saya sama warga sampai kesulitan untuk menolongnya," kata Omay.

Air yang belakangan meninggalkan bekas di dinding setinggi sekitar 1,5 meter lalu mengalir ke arah jembatan desa yang terletak tak jauh dari rumah Ujang.

Aliran air lalu membanjiri jalan desa dan kemudian melanda rumah-rumah warga di seberang jalan tersebut.

Rumah dan juga tempat usaha ternak ayam milik Iday Ruswandi (33) termasuk yang terkena banjir tersebut.

Iday Ruswandi menjelaskan, saat itu dirinya bersama istri dan anak sedang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan teriakan warga yang terkena terjangan banjir lebih dulu.

"Kalau saya berhasil menyelamatkan diri, tapi istri saya sampai kebawa air. Untung ketolong sama pegawai yang langsung berlari menolong istri saya," ujar Iday kepada Tribunnewsbogor.com, Minggu (13/3/2016).

Dia berharap, pihak proyek pembangunan Tol Bocimi bertanggungjawab atas peristiwa banjir bandang yang menimpa kampung tempat tinggalnya.

"Ini memang kelalaian mereka, tapi akibatnya kami yang harus merasakannya," keluh Iday.

Iday mengklaim dirinya mengalami kerugian sekitar Rp 360 juta setelah ayam peliharaannya yang berjumlah 500an ekor mati terendam banjir.

Menurut Omay, peristiwa banjir semacam ini bukan kali pertama dialami warga yang bermukim di daerah tersebut.

"Semenjak ada jembatan proyek di sungai ini, jadi beberapa kali banjir, tapi ini yang terparah," ujarnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari petugas Siaga Bencana Desa Ciherang Pondok, tujuh warga yang sempat terseret arus air itu adalah:

1. Neneng Nimah (35), dirawat di RSUD Ciawi.

2. Ujang Pakot (40), dirawat di RSUD Ciawi.

3. Esih (2), dirawat di RSUD Ciawi

4. Ratna bin Abas (25)

5. Yuyu bin dedi (17).

6. Susi bin karim (19).

7. Zenab (14)

Menurut petugas BPBD Kabupaten Bogor, Zakaria, Minggu (13/3/2016) lalu, semua korban berhasil dievakuasi setelah terseret banjir bandang yang menerjang kampung itu.

"Korban yang dibawa ke rumah sakit satu keluarga. Mengalami sesak nafas dan luka lecet di tubuh mereka," ujar Zakaria kepada
TribunnewsBogor.com.

Sekretaris Desa Ciherang Pondok, Nanad mengatakan, air tiba-tiba datang dan menerjang permukiman hingga ada warga yang hanyut terbawa banjir.

"Ada tujuh orang warga yang terbawa hanyut," ujar Nanad saat ditemui TribunnewsBogor.com, Minggu (13/3/2016).

Menurut Nanad, banjir melanda rumah-rumah penduduk sekitar pukul 09.45 WIB, pada saat cuaca tidak sedang hujan.

"Aliran sungainya kebendung dampak pengerjaan proyek Tol Bocimi, makanya sampai meluap ke permukiman warga," kata dia.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved