Bibit Unggul Kini Bisa Dikloning dengan Teknik Kultur Jaringan Ini
Teknik ini dinamakan dengan teknik Somatik Embriogenesis (SE).
Penulis: Andhika Adikrishna | Editor: Suut Amdani
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Andhika Adikrishna
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Ilmuwan dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PBBI) mengembangkan sebuah teknik kultur jaringan untuk menghasilkan bibit.
Teknik ini dinamakan dengan teknik Somatik Embriogenesis (SE).
Teknik ini dapat memperbanyak jumlah bibit yang dihasilkan pada metode kultur jaringan.
"Pada teknik kultur jaringan yang konvensional, yaitu Organogenesis, jumlah bibit yang dihasilkan terbatas, dan bibit yang dihasilkan memiliki Variasi Somaklonal yang tinggi," ujar Sukarno M.P. kepala urusan pelatihan PBBI, Jalan Taman Kencana No 1, Kota Bogor.
Dengan menggunakan teknik SE, jumlah bibit tanaman yang dihasilkan akan lebih banyak dibanding dengan menggunakan teknik Organogenesis.
Pada teknik Organogenesis, kalus akan diinduksi untuk menjadi tunas, tunas-tunas tersebut kemudian akan diseleksi untuk pada akhirnya dikembangkan menjadi tanaman.
Tidak semua tunas akan dikembangkan menjadi tanaman, karena ada beberapa tunas yang mati, ada juga yang tidak sehat sehingga tidak semua tunas yang tumbuh akan ditanam.
Namun pada jika menggunakan teknik Somatik Embriogenesis, kalus diinduksi untuk menjadi Kalus Embriogenik.
Dari Kalus Embriogenik, setiap sel dapat dikembangkan menjadi tanaman sendiri dengan abnormalitas rendah.
"Ibaratnya kalau kalus itu kumpulan kelereng, kalau menggunakan cara konvensional, beberapa kumpulan kelereng itu bisa dikembangkan jadi tumbuhan. Kalau dalam SE, setiap kelereng bisa dikembangkan menjadi tanaman," ujar Sukarno.
Hal ini dapat menghemat biaya hingga milyaran rupiah dalam proses pembuatan bibit.
Selain dapat memperbanyak produksi bibit, teknik SE juga dapat merendahkan variasi somaklonal pada bibit.
Variasi Somaklonal adalah keragaman genetik pada bibit yang dihasilkan melalui kultur jaringan, hal ini mempengaruhi keragaman produk yang dihasilkan tanaman.
Semakin sedikit ragam produk yang dihasilkan tanaman, akan semakin baik tanaman tersebut untuk ditanam pada perkebunan karena kebun tersebut akan menghasilkan produk yang seragam.
"Untuk kelapa sawit, jika menggunakan teknik konvensional abnormalitasnya bisa mencapai 20 hingga 70 persen, kalau menggunakan teknik SE ini, kami berhasil merendahkan abnormalitas menjadi kurang dari 5 persen," ujar Sukarno.
Sifat yang dapat dicari pada sebuah tanaman, dapat diturunkan melalui teknik SE.
"Kalau untuk kelapa sawit kita mencari kelapa yang besar, produktivitas tinggi, dan menghasilkan banyak minyak. Untuk cokelat dan kopi, kami mencari produktivitas yang tinggi dan rasa rasa yang seragam," ujar Sukarno.
Teknik SE saat ini sudah diterapkan ke tanaman kelapa sawit, kakao, dan kopi.
Beberapa tanaman lain seperti teh, tebu, dan karet masih dalam proses penelitian untuk menggunakan teknik SE.
Sebagai tambahan, karena teknik SE ini adalah metode kultur jaringan, bibit yang dihasilkan akan menjadi bebas penyakit.
Jika Anda tertarik untuk mempelajari terknik Somatik Embriogenesis ini, PBBI membuka Workshop Nasional pada tanggal 26-28 Juli 2016, di pusat penelitian bioteknologi.
Biaya pendaftaran workshop ini adalah 3 juta rupiah per orang, pendaftaran dibuka untuk 100 orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/kultur-jaringan_20160509_190439.jpg)