Hebat ! Mahasiswa IPB Ciptakan Penyerap Logam Berat dari Serbuk Biji Alpukat
Bahan yang dihasilkan untuk menyerap logam berat ini berasal dari serbuk biji alpukat sebagai bioabsorben.
Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Soewidia Henaldi
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Vivi Febrianti
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menciptakan penelitian yaitu penyerap logam berat krom (Cr) dari biokomposit oksida besi magnetit.
Bahan yang dihasilkan untuk menyerap logam berat ini berasal dari serbuk biji alpukat sebagai bioabsorben.
Atas penelitiannya tersebut, mahasiwa IPB meraih juara dua dalam lomba karya tulis ilmiah mahasiswa tingkat Nasional.
Ketiganya adalah Gempur Irawan Supena Putra, Iis Tentia Agustin dan Muhminah, dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Mereka membawakan inovasi tentang AVOBEN (Avocado Bioabsorben), yaitu serbuk biji alpukat sebagai bioabsorben atau penyerap logam berat krom (Cr) dari biokomposit oksida besi magnetit.
Gempur mengatakan, AVOBEN berguna untuk menyerap logam berat krom pada limbah cair hasil penyamakan kulit di kawasan industri penyamakan kulit Sukaregang Garut, Jawa Barat.
"Hasil riset kami menunjukkan bahwa AVOBEN mampu menyerap logam krom hingga 91 persen," katanya kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (17/5/2016).
Ia juga mengatakan, alasannya memilih AVOBEN karena hingga saat ini, biji alpukat sebagai limbah belum bisa dimanfatkan secara maksimal.
"Namun biji alpukat berpotensi dikembangkan menjadi arang aktif dan bioabsorben, karena memiliki gugus hidroksil (OH) dari pati dan selulosanya. Pemanfaatan biji alpukat sebagai bioasorben mempunyai makna mengatasi limbah dengan limbah," jelasnya.

TribunnewsBogor.com/Vivi Febrianti
Gempur Irawan Supena Putra, Iis Tentia Agustin dan Muhminah
Selain itu, kata dia, inovasi ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa pada kondisi lingkungan daerah Garut yang mengalami masalah lingkungan pencemaran logam krom dari limbah cair hasil penyamakan kulit, di kawasan industri penyamakan kulit Sukaregang.
"Sebagai mahasiswa, tugas kita bukan hanya belajar di kelas tetapi lebih dari itu yaitu mengaplikasikan ilmu yang kita dapat menjadi solusi terhadap permasalahan lingkungan, sesuai bidang ilmu yang kami tekuni," katanya.
Gempur bersama timnya juga berencana melakukan riset lanjutan untuk penyempurnaan AVOBEN.
Bahkan, ketiganya juga akan mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) inovasi AVOBEN ini.
"Sebelumnya kami pernah mengikuti suatu ajang yang sama dan karya kami tiba-tiba diklaim pihak lain karena kami tidak mendaftarkan HKI," katanya.
Sebanyak 238 tim mahasiswa sarjana dan diploma empat (D4) se-Indonesia mengikuti lomba ini.
IPB masuk sepuuh besa finalis bersama universitas lainnya yakni Universitas Airlangga, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Sriwijaya (UNSRI), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Universitas Hasanuddin (UNHAS).(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/alpukat_20160517_125822.jpg)