Waspada Penyakit Leptospirosis Menular Lewat Tikus, Sebabkan Gagal Ginjal Hingga Kematian

Gejala yang ditimbulkan yakni menyerupai penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada umumnya.

Waspada Penyakit Leptospirosis Menular Lewat Tikus, Sebabkan Gagal Ginjal Hingga Kematian
TribunnewsBogor.com/Vivi Febrianti
Dokter spesialis penyakit dalam di RS PMI Bogor, dr Nur Rusyda Sp.PD mengatakan, ada penyakit yang saat ini harus diwapadai. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Vivi Febrianti

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Dokter spesialis penyakit dalam di RS PMI Bogor, dr Nur Rusyda Sp.PD mengatakan, ada penyakit yang saat ini harus diwapadai.

Di mana penyekit tersebut adalah leptospirosis, yaitu infeksi akibat air kencing tikus.

Menurut Nur Rusyda, umumnya penyakit ini menjangkit tikus, tapi penyebarannya juga bisa dari hewan ke manusia,

"Jadi sebenarnya penyakit itu dialami oleh tikus tapi bisa ditularkan juga ke manusia," ujarnya kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (6/9/2016) di RS PMI Bogor.

Ia menjelaskan, gejala yang ditimbulkan yakni menyerupai penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada umumnya.

"Ada demam, ada nyeri persendian kemudian ada kemerahan di sekitar bola mata kalau kondisinya parah bisa kekuningan dan nyeri di sekitaran otot terutama di otot betis," jelasnya.


Kompas.com

"Tapi yang menjadi masalah utama dari penyakit leptospirosis ini yakni ketika kondisinya memberat, dan bisa mengancam nyawa akibat dari gangguan ginjal akut," kata dia.

Hal itu terjadi, kata dia, ketika kondisinya sudah berat, atau bisa juga karena penanganannya terlambat bahkan karena diagnosanya juga terlambat.

"Kalau penanganan dan diagnosanya terlambat, bisa mengancam nyawa, nah kalau sudah seperti itu mungkin harus dilakukan hemodialisa atau cuci darah untuk sementara waktu," bebernya.

Ia menjelaskan, kalau terlambat penanganan dan diagnosisnya, dalam waktu dua minggu bisa langsung ke gagal ginjal.

"Tapi pada dasarnya penatalaksanaannya hampir sama dengan DBD, jadi yang utamanya adalah di kebutuhan cairannya harus dicukupi, pasiennya harus kondisi cairan tubuhnya cukup seperti pasien-pasien DBD," ujarnya.

Penyakit ini, kata dia, bisa menjangkit orang-orang yang resiko pekerjaannya sering kontak dengan tikus.

"Misalnya yang bekerja di dinas kebersihan, yang membersihkan selokan-selokan atau sampah, kemudian yang tinggal di pemukiman padat penduduk, yang kumuh dan yang tinggal dekat dengan lokasi banjir," tandasnya.

Penulis: Vivi Febrianti
Editor: Bima Chakti Firmansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved