Penguatan Karakter Kota Pusaka Bukan dengan Membangun Lawang Salapan
Penguatan karakter Kota Bogor sebagai Kota Pusakan bukan dengan membuat bangunan baru.
Penulis: Mohamad Afkar Sarvika | Editor: Ardhi Sanjaya
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Mohamad Afkar Sarvika
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Bangunan Lawang Salapan di Kota Bogor dianggap tak mencirikan Kota Pusaka.
Memang awalnya Pemerintah Kota Bogor lewat Peraturan Wali Kota Nomor 17 tahun 2015, membangun 10 tiang di dekat Tugu Kujang itu dengan tujuan memperkuat karakter sebagai Kota Pusaka.
Tapi menurut Pakar Tata Ruang Kota, Erna Rustiadi, penguatan karakter Kota Bogor sebagai Kota Pusakan bukan dengan membuat bangunan baru.
"Ide dasar konsep kota pusaka memang kota yang memuliakan warisan budaya kotanya, tapi bukan membangun ornamen-ornamen artifisial tambahan," ujar Hadi kepada TribunnewsBogor, Kamis (1/12/2016).
Menurut Ernan, kehadiran Tepas Lawang Salapan terkesan terlalu menonjol dan mendominasi pandangan.
"Bangunan Lawang Salapan memang cukup kontroversial sejak awal karena terkesan terlalu menonjol dan terkesan mendominasi pandangan bahkan terkesan menutupi pemandangan hijauanya Kebun Raya Bogor (KRB) yang merupakan warisan budaya yang lebih sejati," tuturnya.
Lebih lanjut Ernan mengatakan, jika tujuan dibangunnya Tepas tersebut hanya untuk mempercantik Kota Bogor juga patut diperdebatkan, pasalnya, lokasi Tepas tersebut berada di satu titik termacet Kota Bogor.
"Kalau hanya mempercantik juga bisa diperdebatkan, yang jelas lokasinya berada di satu titik lokasi termacet kota ini, tempat angkot banyak ngetem, sehingga sulit bagi publik untuk menikmatinya sebagai ornamen pemandangan kota," pungkasnya.
-------------------
Ikuti Berita Terkini Bogor !
Like Fanpage: TRIBUNnewsBogor.com
Follow Twitter: @TRIBUNnewsBogor
Instagram: @tribunbogor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/lawang-salapan_20161201_151117.jpg)