Dihina Netizen, Pakaian Adat Maluku yang Dipakai Jokowi Ternyata Punya Makna Besar
gelar untuk dirinya disertai dengan tanggung jawab untuk memajukan Maluku dan mensejahterakan masyarakat dan rakyat Maluku.
Penulis: Yudhi Maulana Aditama | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Unggahan seorang pengguna Facebook tentang pakaian adat Presiden RI Jokowi memancing reaksi keras netizen.
Akun Facebook bernama Indriasantika Kurniasari itu dikomentari banyak netizen, terutama mereka warga keturunan Maluku.
Terang saja, ia mencibir Jokowi saat mengenakan pakaian adat Maluku.
Sontak, postingan Indriasantika tersebut viral di dunia maya.
Lalu, apa alasan Jokowi mengenakan baju adat dari Maluku itu?
Dikutip dari laman setkab.go.id, alasan Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat itu adalah karena ia mendapat anugerah gelar 'Upu Kaletia Dantul Po Deyo Routnya Hnulho Maluku' yang artinya Bapak Pemimpin Besar yang Peduli Terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat Adat Maluku dari Majelis Latupati Maluku.
Penganugerahan gelar berdasarkan Keputusan Majelis Latupati Maluku Nomor 01/SK/MLM/II/2017 itu disampaikan oleh Ketua Majelis Latupati Maluku Bonifaxius Silooy, di Ambon, Maluku, Jumat (24/2/2017) pagi.
Penganugerahan didahului dengan pasawari adat, pemasangan jubah kebesaran, kain ikat pinggang, mahkota kebesaran, dan pemberian tongkat komando adat.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengaku merasa sangat terhormat sekali dan mengucapkan terima kasih atas penganugerahan gelar adat kehormatan Maluku kepada dirinya.
Presiden mengaku memahami, bahwa gelar untuk dirinya disertai dengan tanggung jawab untuk memajukan Maluku dan mensejahterakan masyarakat dan rakyat Maluku.
“Panah gurita di ujung tanjong. Cari bia di ujung meti. Biar tapisah gunung deng tanjong. Orang Maluku selalu di hati Tabea!,” kata Presiden Jokowi.
Dengan menerima gelar adat ini, lanjut Jokowi, dirinya menyadari menjadi bagian dari laboratorium perdamaian di Maluku.
Daerah yang kearifan lokalnya berbasis persaudaraan, daerah yang kearifan lokalnya berbasis persaudaraan pela gandong, menggunakan falsafah siwalima yang menyatukan semua perbedaan kelompok menjadi kekuatan perekat yang abadi.
“Sejarah sudah menyaksikan bagaimana kearifan lokal Maluku dapat dengan cepat memulihkan keadaan pasca terjadinya konflik sosial pada waktu yang lalu,” ujar Presiden.
Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/jokowi_20170225_182827.jpg)