Cerita Dibalik Soto Lamongan yang Selalu Ditemani Pecel Lele
Jali Suprapto ialah salah satu yang membawa soto lamongan bersama temannya ke Jakarta pada awal tahun 1960.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Jika Anda melihat tenda-tenda makanan street food bertuliskan Lamongan, lazimnya berjualan soto lamonganbersama pecel lele atau pecel ayam.
Ternyata hal tersebut bukan tanpa alasan dan memiliki cerita di dalamnya.
Kedatangan soto lamongan ke Ibu Kota pada tahun 1950-1960 ternyata tidak dibarengi dengan kedatangan menu pecel lele yang hingga kini setia mendampingi soto tersebut di setiap kedainya.
“ Pecel lele itu tersebar mulai akhir tahun 1970-an, orang-orang mulai adopsi pecel lele untuk dijual sama soto lamongan di Jakarta, dan akhirnya tersebar,” ujar Jali Suprapto (74), pada KompasTravel, saat dikunjungi di warung makan Lamongan miliknya, Senin (5/6/2017).
Jali Suprapto ialah salah satu yang membawa soto lamongan bersama temannya ke Jakarta pada awal tahun 1960.
Ia mengatakan awal mula pecel lele tersebut dijual di daerah Jawa Timur, termasuk di Lamongan.
Di sana para penjual soto lamongan, mulai mencoba berjualan lele pada tahun 1970.
Di tempat yang berbeda, Soen’an Hadi Poernomo, Ketua Putra Asli Lamongan (Pualam) menjelaskan pada KompasTravel saat ditemui di Lenteng Agung, Selasa (6/6/2017).
Menurutnya masyarakat Lamongan memilih lele karena memiliki ketahanan hidup yang kuat, sehingga bisa segar selalu sebelum dimasak.
“Lele itu punya labirin di dalam tubuhnya, jadi tanpa air atau di tempat berlumpur yang ekstrem pun bisa bertahan hidup, akhirnya digoreng pas masih segar,” ujar Soen'an yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan Jakarta.
Dibanding ikan lain, lele memang lebih bernilai ekonomi tinggi diLamongan.
Pada akhirnya selain berjualan soto dan pecel lele, wargaLamongan yang merantau keluar pun berternak lele.
Menurutnya tak jarang dari para pembudi daya lele yang berasal dari Lamongan mengikuti program-program pembibitan yang diadakan Pualam.
Karena selain berjualan soto, ternak lele juga merupakan profesi yang banyak digeluti warga Lamongan yang merantau ke kota-kota lain di Indonesia.

Hartono mengerjakan spanduk lukis Soto Lamongan dan Pecel Lele dari hulu ke hilir bersama isterinya Sri Ningsih, Rabu (1/6/2017)
Meski lele sudah bisa dijual sekitar tahun 1970-an akhir di Jakarta, upaya penjualannya tidaklah mulus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/soto-lamongan_20170607_173716.jpg)