Guru Besar IPB Prediksi Ribuan Pulau Kecil di Indonesia Tenggelam Tahun 2030
ada 10 ribu pulau-pulau kecil yang memiliki potensi sumberdaya alam pesisir yang sangat besar dan prospektif sebagai aset pembangunan.
Penulis: Mohamad Afkar Sarvika | Editor: Ardhi Sanjaya
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Mohamad Afkar Sarvika
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH -Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) memprediksi Indonesia akan kehilang sedikitnya dua ribu pula pada tahun 2030.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 14.752 pulau bernama dengan garis pantai 95.181 kilometer (km) dan luas lautnya 5,6 juta kilometer persegi (km2).
Dari keseluruhan jumlah pulau tersebut, ada 10 ribu pulau-pulau kecil yang memiliki potensi sumberdaya alam pesisir yang sangat besar dan prospektif sebagai aset pembangunan.
Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB), Prof Dietriech Geoffrey Bengen, mengatakan bahwa, tenggelamnya ribuan pulau di Indonesia akan terjadi bila ekosistem yang terdapat pada pulau-pulau kecil tidak dijaga dengan baik.
"Misalnya terumbu karangnya rusak, mangrove rusak, atau penangkapan ikan yang destruktif, maka saya perkirakan Indonesia akan kehilangan dua ribu pulau kecil yang berpotensi tenggelam pada tahun 2030, yang paling dekat dengan kita ya Pulau Seribu, karena bentuk pulaunya dataran,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima TribunnewsBogor.com, Jumat (21/7/2017).
Di sisi lain di mengatakan, pulau-pulau kecil yaang ada di Indonesia memiliki potensi besar.
Namun sayangnya, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau tersebut kehidupan ekonominya masih rendah.
"Sebabnya adalah letaknya yang 'remote' atau jauh dari daratan utama, lokasi pasarnya jauh. Sumber ikan banyak tetapi tidak bisa terjual di pasar karena tidak ada sarana dan prasarana yang memadai.
Selain sarana dan prasarana yang terbatas serta lokasi jauh, faktor lainnya adalah tingkat pendidikan yang rendah dan keberpihakan kita atau pemerintah terhadap pembangunan pulau-pulau kecil.
"Orientasi kita selama ini adalah fokus ke pembangunan daratan. Paradigma ini belum berubah sehingga potensi laut termarjinalkan," ungkapnya.
Lebih jauh dia mengatakan bahwa, untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengubah paradigma yang ada dan laut harus menjadi pemersatu dan penggerak pembangunan.
"Caranya adalah dengan minawisata. Nelayan tidak harus ke pasar untuk menjual ikan, tetapi pembeli yang harus didatangkan ke pulau-pulau tersebut dengan pariwisata, yakni dengan menggabungkan perikanan dan ekowisata," jelasanya.
Dia pun menambahkan, pengembangan terpadu bisa di satu pulau atau beberapa pulau.
Namun konsep pengembangannya beda antara pulau dataran dan pulau bukit. Pulau dataran hanya bisa 30 sampai 50 persen digunakan sebagai objek wisata, selebihnya untuk konservasi sementara Pulau berbukit bisa lebih besar pemakaiannya karena tidak rentan terhadap perubahan iklim.
“Pulau-pulau kecil bisa dimanfaatkan. Karena di sekitar pulau inilah kita masih bisa menemukan terumbu karang yang bagus, dan lain-lain. Tentu dengan penataan sedemikian rupa,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/peta-indonesia_20170721_205415.jpg)