Guru Besar IPB : Strangulasi Efektif Meningkatkan Pembungaan Jeruk
penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2002, hasilnya menunjukkan bahwa strangulasi efektif mengatur dan meningkatkan pembungaan pada jeruk.
Penulis: Yudhi Maulana Aditama | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Di Indonesia pembungaan jeruk pada umumnya terjadi secara alami.
Hal ini mengakibatkan terjadinya produksi yang melimpah pada saat musim panen raya yang mengakibatkan jatuhnya harga, sementara pada waktu yang lain tidak ada produksi sama sekali.
Oleh karena itu, pengaturan pembungaan secara ekonomi sangat penting untuk meningkatkan dan memperpanjang periode produksi sehingga dapat menghindari fluktuasi harga yang terlalu tinggi.
Diperlukan berbagai upaya untuk mengatur dan meningkatkan pembungaan, salah satunya dengan mengganggu sistem metabolisme tanaman.
Guru Besar di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Slamet Susanto menemukan metode yang efektif untuk mengatur dan meningkatkan pembungaan jeruk.
Metode tersebut dikenal dengan istilah strangulasi.
Strangulasi dilakukan melalui pelilitan kawat pada batang atau cabang tanaman kemudian ditekan sampai kedalaman tertentu dan dibiarkan selama periode waktu tertentu.
“Makin besar ukuran batang atau cabang memerlukan ukuran kawat yang lebih besar. Umumnya kawat yang digunakan berdiamater 1,6-3 mm. Perlakuan strangulasi akan menghambat translokasi fotosintat dari tajuk ke akar untuk sementara waktu sehingga terjadi penumpukan karbohidrat pada bagian tajuk tanaman sehingga akan merangsang terjadinya pembungaan,” terangnya dalam siaran pers yang diterima TribunnewsBogor.com.
Melalui serangkaian penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2002, hasilnya menunjukkan bahwa strangulasi efektif mengatur dan meningkatkan pembungaan pada jeruk.
Penelitian telah dilakukan baik di kebun IPB maupun di kebun petani sejak tahun 2002 sampai 2014.
“Sampai saat ini telah dilakukan beberapa tahap penelitian terkait strangulasi, meliputi ukuran kawat yang efektif, lama periode strangulasi yang berbeda, waktu strangulasi yang berbeda, aplikasi pada tanaman berumur berbeda, perlakuan pada batang dan cabang, strangulasi tunggal dan ganda dan ujicoba ke petani”, kata Prof. Slamet.
Pada tahun 2002, Prof. Slamet melakukan penelitian strangulasi pada tanaman jeruk pamelo berumur tiga tahun dengan menggunakan kawat 1.6 mm dan 2.0 mm, masing-masing dengan lama waktu strangulasi dua bulan. Strangulasi nyata meningkatkan kandungan karbohidrat daun dan pembungaan jeruk pamelo.
Lebih dari 80% tanaman yang distrangulasi berbunga, sementara pada tanaman kontrol tidak berbunga sama sekali. Pada percobaan lainnya dengan perlakuan periode lama strangulasi yang berbeda yaitu 1, 2 dan 3 bulan, menunjukkan perlakuan strangulasi nyata meningkatkan pembungaan tanaman muda jeruk pamelo.
Sebanyak 90% tanaman yang mendapat perlakuan strangulasi selama 1, 2 dan 3 bulan berbunga, sementara pada tanaman kontrol tidak berbunga sama sekali.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman yang mendapat perlakuan diameter kawat 2,0 mm selama 3 bulan menghasilkan kandungan karbohidrat daun lebih tinggi dibandingkan kontrol. Demikian juga tanaman yang mendapat perlakuan dengan lama waktu 3 bulan menghasilkan jumlah bunga lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan lama waktu 1 dan 2 bulan.
Perlakuan strangulasi menyebabkan jeruk pamelo berbunga lebih cepat 56 hari dibandingkan kontrol.
Penelitian lain menunjukkan bahwa waktu strangulasi yang lebih lama sampai dengan 7 bulan menghasilkan pembungaan yang lebih baik, namun berakibat kerusakan jaringan yang hebat yang memerlukan waktu lama untuk penyembuhannya sehingga tidak disarankan.
“Strangulasi merupakan cara mudah untuk meningkatkan pembungaan pada jeruk. Strangulasi terbukti secara konsisten efektif untuk meningkatkan pembungaan. Teknik strangulasi tidak sulit dilakukan pada level petani atau pekebun”, ujar Prof. Slamet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/jeruk_20170815_211552.jpg)