Begini Cara Menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus, Merubah Paradigma Mendidik

Kresno mengatakan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mendidik dan merawat anak autisme.

Begini Cara Menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus, Merubah Paradigma Mendidik
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Peserta sedang serius mendengarkan pembicara dalam seminar bertajuk 'Kiat Sukses Untuk Menangani Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi' di Politeknik Kent Prasetiya Mandiri Group Bogor, Sabtu (18/11/2017). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TIMUR - Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua ataupun guru untuk mendidik atau memberi pengertian kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ataupun Mahasiswa Berkebutuhan Khusus (MBK).

Dalam seminar yang diadakan oleh Politeknik Kent Prasetiya Mandiri Group Bogor, ratusan orangtua dan guru belajar mempelajari 'Kiat Sukses Untuk Menangani Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi'.

Kegiatan yang diadakan di Politeknik Kent Prasetiya Mandiri Group Bogor, Jalan Bina Marga No.19, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur tersebut bertujuan untuk berbagi informasi terkait anak dan Mahasiswa Berkebutuhan Khusus.

Ketua Pelaksana sekaligus MBK, Novi mengatakan, seminar ini berawal dari observasi di berbagai sekolah yang ada di Kota dan Kabupaten Bogor, ternyata masih banyak guru-guru yang belum tahu bagaimana menangani anak ABK di sekolah inklusi.

"Para guru ini berkata, bahwa mereka di janjikan oleh Pemerintah akan diberikan pendamping untuk mendidik anak ABK, tetapi pada kenyataannya hal itu tidak ada, sehingga para guru ini bertanya-tanya bagaimana caranya untuk menangani anak ABK ini," ujarnya Sabtu (18/11/17).

Maka untuk itu pihaknya mengadakan seminar dengan menggandeng para guru dan orangtua untuk memberikan informasi dan motivasi bahwa ABK atau MBK memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan setinggi tingginya.

Sementara itu, Psikiater OMNI Hospital Serpong, Dr. Kresno Mulyadi sekaligus pembicara utama mengatakan, sama seperti seminar sebelumnya, bahwa deteksi dini terhadap autisme itu harus dilakukan oleh semua keluarga dan masyarakat yang belum memahami dan mengetahui hal tersebut.

"Tujuannya sendiri supaya penanganan itu bisa benar-benar sedini mungkin, karena ini mempengaruhi kesembuhan 100 persen sang anak," ujarnya.

Kresno menambahkan, masyarakat harus memahami paradigma baru bahwa autisme itu bisa sembuh dengan terapi yang benar, karena secara ilmu artinya bukanlah kecacatan dan tempatnya adalah di sekolah reguler, bukan sekolah yang terus memanjakan dan mendampingi anak tersebut.

“Mereka harus diberdayakan, utamanya dorongan serta pendidikan orangtua penting. Jadi jangan ada anggapan bahwa menyembuhkan dan menterapi anak autis itu membutuhkan biaya yang mahal, tidak seperti itu. Tetapi, bisa dilakukan oleh orang tua dengan mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan, terkait bagaimana caranya menyembuhkan anaknya, karena dalam hal ini untuk mengoptimalkan anaknya bisa sembuh, jika bukan orang tua siapa lagi,” ucapnya

Kresno mengatakan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mendidik dan merawat anak autisme.

Caranya adalah dengan merubah paradigmanya bukan lagi dengan cara terus memerintah, mengancam, memaksa, membatasi dan lain sebagainya.

"Caranya itu dimulai dari perilaku orang tuanya sendiri terhadap anaknya seperti, memberi tauladan yang baik," jelasnya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Vivi Febrianti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved