SEAFAST Center IPB Kembali Bahas Keamanan Pangan dalam Seminar Internasional
Dalam seminar ini juga diisi dengan technical session dari akademisi, praktisi dan industri. Para pembicara berasal dari dalam dan luar negeri.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Lagi, SEAFAST Center IPB Bahas Keamanan Pangan dalam Seminar Internasional Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (SEAFAST Center) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB).
IPB berkomitmen untuk menjadi lembaga penelitian internasional dalam rangka peningkatan kualitas, gizi dan keamanan pangan.
Selain itu, sekaligus menjadi pusat kemitraan untuk menyatukan berbagai stakeholder pangan (akademisi, pemerintah, industri pangan, dan lain-lain) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan daya saing bangsa Indonesia.
Untuk itu, SEAFAST Center mengadakan 1st SEAFAST International Seminar, dengan tema “Current and Emerging Issues of Food Safety: Innovation Challenges”. Acara digelar di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (20/11/2017).
Kepala Pusat Seafast Center IPB, Prof. Dr. Nuri Andarwulan, mengatakan dalam seminar ini membahas hal-hal terbaru terkait riset terkini (lima tahun terakhir) dalam hal senyawa-senyawa baru dan mikroba baru yang berkaitan dengan pangan.
Dalam seminar ini juga diisi dengan technical session dari akademisi, praktisi dan industri. Para pembicara berasal dari dalam dan luar negeri.
”Seminar ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi berbagai stakeholder pangan (pemerintah, akademisi, industri pangan dan masyarakat) betapa pentingnya keamanan pangan. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama dari berbagai pemangku kepentingan di atas,” ujar Prof. Nuri dalam siaran pers yang diterima TribunnewsBogor.com.
Deputi bidang Pengawasan, Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Drs. Suratmono, MP mengatakan dalam hal mutu pangan, Indonesia berada di urutan ke-86 dunia dan ke-7 dari sembilan negara ASEAN.
“Untuk itu, mari perbaiki peringkat keamanan pangan. Mari kita lihat kondisi pangan di Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut disampaikannya, di era globalisasi saat ini, arus pangan menjadi sangat kompleks. Pemenuhan kebutuhan pangan, khususnya di Indonesia, bukan hanya lewat produksi dalam negeri tetapi juga berasal dari luar negeri.
Di samping itu, seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, proses produksi pangan pun menjadi sangat bervariasi.
Dengan kompleksitas ini, terdapat kemungkinan bahwa bahan pangan dapat tercemar baik oleh bahan berbahaya yang sebelumnya telah teridentifikasi maupun oleh bahan yang sebelumnya tidak/belum dilaporkan.
“Selama kurun waktu 2013-2015, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melaporkan terdapat sekira 30-60 lebih kasus keracunan makanan yang serius dari seluruh provinsi di Indonesia. Tahun 2016, walaupun angkanya menurun dibandingkan tahun sebelumnya, insiden keracunan pangan masih tinggi, yakni sebesar 26 persen dari 130-an kejadian luar biasa penyakit dan keracunan pangan,” paparnya.
Dalam seminar ini juga digelar kompetisi pengembangan produk pangan baru yang diikuti oleh 40 peserta mahasiswa S1.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/seafast_20171126_172526.jpg)