Departemen Agribisnis IPB Siap Kembangkan Kurikulum Berbasis Online
Arah pendidikan agribisnis perlu dibedakan menurut pendekatan substansi kajian agribisnis dan penyelenggaraan pendidikan agribisnis.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Perkembangan teknologi dan trend online saat ini merupakan tantangan.
Konsep yang digunakan untuk trend online tersebut juga dapat lebih meningkatkan proses-proses dalam mengelola agribisnis.
Di sinilah peran Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk terus mengembangkan kurikulum yang juga berbasis online, bukan in the line, sehingga kekuatan pencapaian keilmuan agribisnis akan all out.
Demikian disampaikan Sekretaris Institut (SI) IPB, Dr. Ibnul Qayim ketika membacakan keynote speech Rektor IPB dalam acara “Lokakarya Evaluasi dan Pengembangan Kurikulum Program Sarjana Agribisnis” di IPB International Convention Center (IICC) Bogor (1/2/2018).
Dr Ibnul Qayim menambahkan, kurikulum yang ada perlu diperkuat kesesuaiannya dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) serta mandat visi dan misi IPB ke depan.
Selain itu, perlu juga diperhatikan bahwa kesesuaian kurikulum tidak juga semena-mena mengikuti trend yang ada, tetapi juga perlu memilih kebutuhan keilmuan atau kurikulum yang sesuai.
“Ini dikarenakan perkembangan pendidikan agribisnis seharusnya didasari oleh tuntutan perubahan positif dan negatif. Jika perubahan-perubahan yang terjadi tersebut merupakan konsekuensi logis dari perkembangan peradaban manusia, maka tuntutan terhadap pendidikan agribisnis bukan fenomena sesaat,” paparnya dalam siaran pers yang diterima TribunnewsBogor.com.
Arah pendidikan agribisnis perlu dibedakan menurut pendekatan substansi kajian agribisnis dan penyelenggaraan pendidikan agribisnis.
Kajian substansi ditekankan pada pendekatan vertikal dan horisontal. Pendekatan vertikal berupa arah kajian pada tingkat kedalaman agribisnis yang berimplikasi pada jenjang atau tingkatan akademik, mulai dari pendidikan sarjana sampai dengan pascasarjana.
Pendekatan horisontal didekati dari penguasaan pengayaan aspek-aspek profesional dalam pengelolaan agribisnis dan meluasnya peluang lapangan kerja.
Oleh karenanya, untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi utama agar mudah mendapatkan pekerjaan maka diperlukan ramuan kurikulum yang relevan dengan kondisi aktual agribisnis.
Kondisi aktual hanya bisa dicapai apabila dalam penyusunan kurikulum tersebut melibatkan pihak-pihak terkait, terutama pihak industri pengguna lulusan.
Di dalam proses penyusunan ini, sering terjadi perdebatan kepentingan antara kebutuhan khusus pihak perusahaan dengan kaidah-kaidah pendidikan tinggi.
“Rencana Jangka Panjang IPB (RJP-IPB) 2019-2045 telah meneguhkan IPB menjadi Techno-Socio-Entrepren eurial University, maka kontribusi dan peran IPB di masa depan akan lebih dituntut dalam pemberdayaan dan pengayaan masyarakat/bangsa Indonesia (Social Enrichment), dengan tetap fokus pada pendidikan unggul berkualitas untuk semua, penelitian unggul dan terdepan, serta mampu menjadi solusi permasalahan bangsa,” terang Dr. Ibnul Qayim.
Upaya membawa masa depan ke dalam masa kini tersebut harus dijiwai dengan semangat memperkuat marwah perguruan tinggi sebagai pilar kekuatan integritas keilmuan dan moral serta pilar independensi untuk senantiasa menebar kebaikan dan terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ipb_20180206_190612.jpg)