Cerita Dokter Saat Jaga Malam Bikin Merinding, 'Ketindihan' Hingga Dengar Suara Mistis
Tugas jaga malam bagi seorang dokter tentunya menjadi hal biasa. Mereka biasa dijadwalkan untuk bertugas di beberapa ruangan.
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Tugas jaga malam bagi seorang dokter tentunya menjadi hal biasa.
Mereka biasa dijadwalkan untuk bertugas di beberapa ruangan yang ada di rumah sakit tempat mereka bekerja.
Banyak pengalaman yang tentunya didapat oleh para dokter, satu di antaranya oleh Dr Gia Pratama, seorang dokter.
Ia menuliskan cuitan melalui akun Twitternya @GiaPratamaMD tentang pengalaman 'mistis' nya saat jaga malam bersama rekannya di sebuah rumah sakit.
Begini kisahnya.
Sore itu saya jalan menuju RuKo (rumah koas) bangunan tempat base camp seluruh koas garut, tempat pembagian stase, tempat ujian, dan tempat sekretaris pengurus administrasi perkoasan berkantor.
Tanpa mengetuk saya langsung masuk RuKo lewat pintu utamanya. Tapi ketika saya masuk, saya terpaku
Scarlett duduk disana.
Dia sm tmn2nya, dan dia lagi nangis. Temen2nya lg nenangin dia
"Hai scarlett" saya menyapa, mata berkaca2nya meliat saya, "aaaa, ka giaaa". Mata itu kyk menunjukkan klo dia jg mau meluk saya ((ngarep))..
"Kamu kenapa?"
"pasiennya baru aja meninggal ka" jwb tmnnya.
"Meninggal? Pasien yg mana?"
scarlett jawab sambil masih sesegukan "pasien post partum (pasca melahirkan) kak".
"Innalillahi knp meninggalnya?"
"Atonia uteri ka"
Saya terdiam, saya tau itu kondisi berat. Pembuluh2 darah rahim itu saling memilin bersilangan dengan otot2 rahim, posisinya seperti kedua jari2 di tangan kanan kita disatukan dengan jari2 di tangan kiri kita.
Pasca melahirkan, otot rahim harusnya berkontraksi, mengecil, mengeras sedemikian rupa smp pembuluh2 drh rahim terjepit sehingga tdk tjd pndarahan.
Oleh krn itu setiap slesai mmbantu prsalinan,kita pegang perut ibu,bila rahim keras kita bahagia, bila lembek, Atonia Uteri terjadi.
"Pendarahannya luar biasa kak, sangat amat deras, aku udh bimanual(google sendiri) pake tgn kanan, tgn kiriku menekan rahimnya dari perut. darah tetep mengucur deras dari siku aku" kata scarlett. "Tensinya turun terus,denyut jantungnya melemah trus meninggal" dia sesegukan lagi.
Temennya scarlett bilang, "iya ka usia ibunya udh 40 tahun, ini udh hamil ke 5, trus proses persalinannya memanjang, awalnya sama paraji, dibawa kesini karna tdk lahir2". Saya mikir, semua faktor resikonya lengkap, otot rahim diatas 35 tahun, multipara, dan kelelahan otot rahim.
Seusai mendengar cerita itu dari rekan dokternya, Dr Gia langsung kembali ke ruang perina karena ia telah mempunyai jadwal untuk jaga malam di sana.
Dr Gia pun kemudian kembali bercerita tentang jaga malamnya tersebut.
Saya jaga perina yg penuh aura mistis itu bersama seorang koas cewe
Perina itu setiap lbh dari jam 12 malam selalu berubah suhunya jadi jauh lebih dingin. Entah kenapa. Padahal ga ada ac sm sekali. Semua yg pernah jaga di perina sana pasti merasakan juga. Bukan cuma suhu. Tapi jg suasana senyap yg terlalu senyap.
Saya fokus ke laptop saya, adek kelas saya itu tidur memanjang di sebelah saya dengan kepala di sisi jauh sofa dan kaki di sebelah saya duduk. Jd bila saya nengok ke kanan sedikit dari layar laptop, saya bisa ngeliat wajahnya dengan jelas. Saya liat jam tgn. '01.00’
Cerita ruang perina itu aneh2, tapi saya ga percaya. ada perawat pernah liat pocong tidur di lantai di antara bayi2. Trus dia lgs kesurupan. Saya pikir mungkin dia epilepsi. Ada anak akbid liat sundel bolong di jendela luar perina trus dia pingsan. Saya pikir paling halusinasi.
Jam 2 pagi tiba2 kedua tgn saya untuk ngetik laptop terasa dingin. Saya sampe tarik tgn saya utk digosok2 ke badan. "Ini kenapa sih tangan". Saya minum teh anget yg saya seduh trus coba untuk ngetik lagi.
Lagi saya ngetik laptop tiba2 adek kelas saya mengerang2 lembut
Makin lama erangannya makin memberat, saya berhenti ngetik, saya liatin mukanya baik2, kerut di dahinya ketara sekali, bulir2 keringet muncul di wajahnya, she looks like in pain. Ini lagi mimpi buruk apa dia?
Sekarang tangannya meremes2 sofa,dia tmpak kesulitan bernafas. Saya mulai duduk tegak. Tiba2 tangan kanannya naik mengarah ke wajah saya, trus dia berusaha sekuat tenaga menoleh ke saya, matanya terbuka pelan2, lalu suara berat bergetar kluar dari mulutnya "Ka..Gi..A..To..Long."
Saya loncat berdiri untuk bangunin dia. "Istigfar de. Istigfar" kedua tangan saya di bahu dia, badannya dingin.
Dia mulai tersadar, badannya mulai bisa bergerak bebas, nafasnya sudah lega. Saya lepaskan dari rangkulan saya lgs menyandarkannya ke sofa. Trus saya tanya "kamu kenapa?" sambil tersengal2 dia jawab "aku ketindihan ka"
Saya ga percaya ketindihan, buat saya 'ketindihan' itu adalah saat kita terbangun di fase REM(rapid eye movement) fase tidur dalam. Jd seluruh badan kita ga bisa digerakkan.
Saya kembali mengetik. Saya liat dia dari kejauhan sedang memberikan asi dlm botol2 ke bayi2 di perina satu persatu.
Beberapa menit kemudian, dia jerit "KA GIAAA..." trus lari balik ke ruang koas, wajahnya pucat, badannya gemetaran, naik ke sofa trus nangis sekenceng2nya sambil nutupin mukanya. "Ey kamu kenapa?". "Ru.. Ru.. Ang.. I.. Iso.. La. Si ka"
"A. Ada su. A. Ra ka".. "Suara apa?jgn aneh2 kamu deh,ayo tarik nafas dulu".. "Suara perempuan ka" katanya sambil sesegukan. Ya Allah 2 kali sehari aku liat dan denger wanita nangis. Scarlett dan dia. "Suaranya ngomong apa?".. "Disini, disini belum"
Tiba2 saya ikut merinding. Temen 'ketindihan'? Bayi di ruang isolasi? Suara ibu2? Ya Allah ya robbi, jangan2..
"Kamu tunggu disini, kk mau masuk ruang perina".. Dia masih gemeteran.
Saya masuk ruangan perina, lalu ke ruang isolasi, saya mendekati 1 bed bayi yg ada disana, melongok ke dlm keranjang bayi itu. Bayi gemuk cantik sedang tidur pules di dalamnya. Saya ambil handphone saya lalu menelfon scarlett.
"Ya ka Gia" suaranya terdengar di hp. "Let, siapa nama pasien km yg meninggal hari ini?". "Ny. A.., ka". Jawab scarlett. Saya gemetaran, tgn kiri saya mengangkat kartu pasien bayi. Tertera disana. Dengan huruf balok -Bayi Ny. A..-
Saya pamit sama scarlett, tutup telfonnya, taruh lagi kartu pasien, saya tarik nafas dalam2 lalu saya usap2 kepala bayinya,
tiba2 bayinya bergerak2 trus terbangun, dia melihat saya, saya minumkan susu yg ada disebelahnya. Dia minum dgn sangat Lahap sekali.
"Nak, ibumu sayang sama kamu, walaupun kini beliau sudah tidak satu dunia dengan kita, percayalah nak, dia akan tetap bersamamu untuk melindungimu" mata saya ngembeng air mata.
Begini penampakan salah satu sudut di ruang perawatan bayi.
