Buka Lapangan Kerja Tak Secepat Pertumbuhan Penduduk, Ini Dampaknya Bagi Lingkungan

Lanjutnya, pertumbuhan di wilayah Jabodetabek diprediksi aktan terus terjadi dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Buka Lapangan Kerja Tak Secepat Pertumbuhan Penduduk, Ini Dampaknya Bagi Lingkungan
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Ernan Rustiadi 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Kemampuan negara menyediakan lapangan pekerjaan tidak secepat pertumbuhan penduduknya membuat suatu wilayah melebar dan tidak efisien.

Peneliti Senior pada Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB, Dr. Ernan Rustiandi menyebut karena hal itu walaupun negara Indonesia luas namun bisa menjadi kurang maksimal.

"Betul, negara kita negara luas, tapi masalahnya kan terkumpul di (pulau) Jawa, terkumpul di Jabodetabek, terus kedua, kemampuan kita menyediakan lapangan pekerjaan tidak secepat pertumbuhan penduduk, itu kan masalahnya, jadi negara seluas ini juga gak ada artinya," jelas Ernan ketika ditemui TribunnewsBogor.com.

Lanjutnya, pertumbuhan di wilayah Jabodetabek diprediksi aktan terus terjadi dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Ernan pun mengambil contoh Tokyo Megacity Jepang dengan wilayah kotanya tidak mengalami perkembangan pesat karena pertumbuhan penduduknya sudah lambat.

"Tokyo tidak mengalami perkembangan luas karena penduduk Jepang itu udah lambat pertumbuhannya, sedangkan kita pertumbuhan penduduknya masih tinggi, di Jabodetabek itu makin luas terus dan masih ada banyak lagi Meikarta-Meikarta baru," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa Jabodetabek adalah Jakarta Megacity, yang seharusnya angka ideal jumlah penduduknya hanya 10 juta jiwa.

Tapi kini angkanya sudah mencapai angka 30 juta jiwa.

Menurutnya Jakarta Megacity kian hari kian membesar dan meluas ke daerah pingiran.

"Kota yang terlalu besar itu, kota yang tidak efisien, rata-rata perjalanan orang dari tempat kerja ke tempat tinggal itu terlalu panjang menghabiskan waktu lebih lama, orang bisa 3 jam berangkat ngantor, 3 jam pulang, itu secara sosial budaya banyak masalah, lalu secara ekonomi juga tidak efisien," ungkapnya.

Menurut Ernan, Jakarta harus bergerak ke arah yang lebih compact, salah satunya pembangunan pemukiman vertikal yang laik bagi generasi muda tapi murah.

Pertumbuhan perluasan wilayah Megacity itu harus disertai dengan pengendalian secara ketat karena akan menyebabkan fenomena urban sprawl.

"Istilahnya, namanya fenomena urban sprawl, itu kota yang luas tapi sebenarnya tidak padat, tidak efisien, meluasnya pun tidak teratur, termasuk imbasnya ya ke kawasan Puncak, banyak alih fungsi lahan yang gak perlu," ungkapnya.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved