Pilot Garuda Ancam Mogok Kerja, Ini Alasannya

Pada April 2017, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan untuk menghapus posisi Direktur Operasi dan Direktur Teknik di internal perusahaa

Editor: Ardhi Sanjaya
Tribunnews.com
Ist Pesawat Garuda 

Pada masa itu, diketahui hanya Garuda Indonesia sebagai maskapai yang mengalami delay di sejumlah bandara.

Sementara maskapai lain tidak mengalami hal serupa, ditambah erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali, sudah mereda.

"Dulunya direksi cuma 6, kemudian jadi 9 sama Direktur Kargo. Karyawan dipotong hak-haknya, tapi direksinya membengkak. Kalau direksi kan paling tidak mobilnya Alphard," sebut Bintang.

Atas dasar hal-hal tersebut, APG bersama Serikat Bersama Serikat Karyawan Garuda Indonesia menuntut penggantian direksi yang dianggap tidak paham cara kerja dunia penerbangan.

Mereka juga memberi tenggat jika 30 hari tuntutannya tidak dipenuhi, maka pilot dan para kru akan mogok kerja.

Bintang menyampaikan, mogok kerja ini selain sebagai bentuk protes, juga untuk memberi tahu kepada khalayak bahwa kondisi Garuda memang seperti itu.

Secara umum, kinerja perusahaan pelat merah tersebut juga bisa dilihat melalui harga saham yang turun sejak tahun lalu.

"Harga saham awal mula Rp 750 per lembar turun zaman mereka tahun kemarin Rp 480, sekarang di bawah Rp 290. Minimal rakyat pada tahu bahwa kami kondisinya kayak begini," ucap Bintang.

Sebelumnya, Pahala mengimbau para karyawan di Garuda tetap fokus bekerja dan tidak mogok demi pelayanan terhadap pengguna jasa.

Dia juga meyakinkan bahwa kinerja keuangan perusahaan akan membaik dan dapat membukukan laba sesuai target yang ditetapkan untuk tahun 2018.

Sumber berita klik disini : Pilot Garuda Ancam Mogok Kerja, Ini Alasannya

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved