3 Orang yang Tiba-tiba Diperiksa Polisi Pasca Teror Bom, Ada yang Diminta Pergi Dari Terminal
Malahan, ada juga pria bersarung dan baju koko yang dipaksa membuak kardus dan tas yang dibawanya.
Penulis: Ardhi Sanjaya | Editor: Ardhi Sanjaya
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Kejadian yang terbilang tak mengenakkan dialami oleh sejumlah orang pasca teror bom di Surabaya dan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.
Hanya karena pakaiannya, mereka dicurigai sebagai seorang teroris.
Ada sejumlah orang yang mengalami hal tersebut.
Malahan, ada juga pria bersarung dan baju koko yang dipaksa membuak kardus dan tas yang dibawanya.
Kejadian ini menjadi perbincangan banyak sekali warganet di media sosial.
Lewat akun Instagramnya, Brigadir Jenderal Polisi Krishna Murti juga sempat menyinggung kejadian-kejadian seperti ini.
Baca: Video Pria Diminta Buka Dus dan Tas Bawaannya di Pinggir Jalan Ini Tuai Komentar dari Netizen
Besok2 kalau Polisi agak waspada thd teman2, Tolong jangan anggap kami tidak ramah. Ini karena waspada saja..
Semua harus meningkatkan kewaspadaan karena pelaku kejahatan tidak mengenal wajah dan pakaian.
Kamu jangan tertipu dg penampilan.. .
Jangan hujat kami tidak humanis.
Kami harus kuat untuk melindungi kalian.. #kmupdates (untuk para wanita, diperiksa petugas wanita)

Berikut ini kejadian-kejadian dan faktanya :
1. Pria Bersarung
Sebuah video baru-baru ini menjadi perbincangan netizen.
Video itu menyebar di media sosial dan salah satunya diposting oleh akun Instagram @thebijak, Selasa (15/5/2018).
Tampak di video itu, seorang pria berpakaian mirip santri sedang berdiri di pinggir jalan.
Baca: Krishna Murti: Wanita Bercadar dan Pria Bercelana Di Atas Mata Kaki Bukan Berarti Teroris
Ia terlihat mengenakan kain sarung, kemeja lengan panjang dan peci hitam.
Pria itu juga tampak membawa dus dan tas gendong di punggungnya.
Baca: Diterawang Peramal Soal Rumah Tangganya, Dewi Perssik Bongkar Rahasia Angga Wijaya
Di dekat pria itu, terlihat ada beberapa anggota polisi membawa senjata memintanya membuka barang bawaannya.
Ia sempat adu mulut dengan polisi tersebut hingga akhirnya berjongkok dan mengeluarkan isi di dalam dusnya.
Rupanya yang ia bawa adalah pakaian, namun sepertinya ia tampak tersinggung dengan perlakuan polisi tersebut.
Ia tampak mengeluarkan isi dusnya dengan kasar dan melempar-lempar isinya sambil menggerutu.
"Pake ngamuk ih," ujar perekam.
Tak hanya itu, polisi kemudian meminta dirinya membuka isi tasnya juga, dan meminta ia melakukannya dari jarak agak jauh.
Ia lalu mengeluarkan isi tasnya lagi yang isinya sama dengan di dalam dus.
Baca: Ajak Anak-anak Untuk Lakukan Aksi Bom, Ternyata Begini Doktrin Dari Orangtuanya, Tak Boleh Sekolah?
Tidak disebutkan kejadian itu terjadi kapan dan dimana.
Namun beberapa netizen mengatakan itu mirip di Simpang Semarang.
Baca: Jenazah Teroris yang Tewas di Mako Brimob Kelapa Dua Ditolak Warga, Ini Alasannya
Video ini pun menjadi pembicaraan netizen.
Ada yang kasihan pada pria itu karena dianggap teroris sebab berpakaian seperti itu.
Namun ada juga yang memaklumi bahwa hal itu dilakukan oleh polisi semata-mata demi menjaga agar tidak ada korban jiwa lagi.
2. Wanita diusir dari Terminal
Melansir Surya, Sebuah video berdurasai sekitar 30 detik menyebar di dunia maya.
Dalam video itu terlihat seorang perempuan diturunkan dari bus dan dibawa ke kantor terminal.
Diketahui kejadian itu di Terminal Bus Gayatri Tulungagung, Senin (14/5/2018).
Video ini kemudian menjadi viral dengan berbagai narasi pengantar.
Salah satunya mengatakan, perempuan ini diusir para penumpang bus karena takut aksi terorisme.
Ony Suryanto, Kepala Terminal Gayatri Tulungagung mengatakan, perempuan itu ada di terminal sejak pagi.
Perempuan ini terlihat kebingungan dan berada di jalur bus jurusan Surabaya.
Petugas Terminal Bus Gayatri sempat mengarahkannya ke ruang tunggu terminal.
Tidak lama kemudian perempuan itu naik ke Bus Bagong jurusan Trenggalek.

Para penumpang bus khawatir karena dampak bom di Surabaya dan meminta petugas menanyai identitasnya.
Saat ditanya identitasnya, perempuan itu tidak menjawab.
"Karena saat ditanya hanya diam saja, dia dibawa ke pos pengamanan untuk diperiksa," ujar Ony.
Ony juga berkoordinasi dengan Kepolisian.
Dari pemeriksaan perempuan itu berinisial SAN, usia 15 tahun, seorang santriwati di sebuah Pondok Pesantren di Tulungagung.
SAN berasal dari Kabupaten Ponorogo. Saat itu SAN berusaha kabur dari pesantren karena mengaku tidak betah.
"Rupanya dia kebingungan memilih bus saat di terminal. Dia mau pulang ke Ponorogo," tambah Ony.
Pihak Kepolisian kemudian berkoordinasi dengan pengurus pondok pesantren.
SAN kemudian dikembalikan ke pondok pesantren.
Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Mustijat Priyambodo menyayangkan, karena kejadian itu telah dipelintir menjadi isu yang sensitif.
"Tidak ada pengusiran perempuan bercadar," ucap Mustijat.
Mustijat berharap, masyarakat tidak mudah membagikan materi provokatif yang belum diketahui kebenarannya.
Lebih jauh, Mustijat meminta masyarakat tetap waspada, dan melaporkan setiap hal yang dicurigai ke polisi.
3. Wanita dan anak diperiksa polisi
Melansir Tribun Bali, Sempat viral di media sosial dan group WhatsApp terkait foto seorang perempuan bercadar bersama anaknya duduk di pinggir trotoar, sekitar kawasan Polda Bali, Senin (14/5/2018).
Foto ini menjadi viral lantaran muncul bersamaan dengan kondisi yang kurang kondusif dengan adanya sejumlah teror bom di Jawa Timur.
Sehingga membuat warga semakin meningkatkan kewaspadaan termasuk di Bali.
Namun, terkait foto yang beredar tersebut, pihak Polda Bali telah memberikan keterangan lengkap.
Dalam konferensi pers dengan wartawan sekitar pukul 15.00 di Polda Bali, Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Hengky Wijaya mengatakan tidak ada hal yang mencurigakan dari aktivitas perempuan bersama anaknya itu.
Kata dia, keduanya hanya singgah di tempat itu.
Mereka hanya duduk-duduk sambil menyantap snack dan minum air.
"Setiap orang yang melakukan aktivitas mencurigakan kita datangi dan temui. Namun jika tidak ada bukti yang mengarah ke arah pidana maka kita lepas kembali," sebut dia.
Terkait foto yang beredar di media sosial tersebut, Kabid Humas Polda Bali Kombespol Hengky Wijaya mengatakan orang tersebut tidak melakukan aktivitas yang mencurigakan.

"Dia dan anaknya hanya duduk-duduk saja dan tidak ada aktivitas mencurigakan. Memang wajar kalau saat ini masyarakat jadi sangat waspada dan memberikan informasi kepada kami. Namun kami tegaskan tidak semua seperti itu," ungkal Hengky.
Ditanya apakah petugas juga melakukan penyisiran, Hengky menjawab tidak sampai pada tahap seperti itu.
Ia menjelaskan, pihaknya saat itu langsung memeriksa perempuan bersama anaknya itu.
Menurutnya, dari hasil pemeriksaan, tidak ada ditemukan barang bawaan yang mencurigakan.
"Pihak kami tidak sampai melakukan penyisiran terkait hal itu. Dan ketika kami lihat dan diperiksa tidak bawa apa-apa. Dan pas kita wawancarai, dia dan anaknya hanya duduk di situ sambil makan snack serta minum," jelasnya.
Dia juga menyebut pihaknya hanya melakukan pencegahan.
"Jadi daripada kita kalah cepat maka lebih baik kita lakukan pencegahan. Setiap orang yang melakukan aktivitas mencurigakan kita datangi dan temui," terangnya.
Pihaknya mengaku sudah mengetahui identitasnya, namun belum bisa diungkapkan.
"Identitasnya ada, tapi teman-teman jangan terlalu mengerucut. Kami hanya meningkatkan kewaspadaan saja. ," jelasnya.
Kata dia data yang ada juga tidak bisa langsung dicocokkan dengan data-data yang ada.
"Jadi jangan sekarang datanya diminta dicocokkan sebagainya. Jadi tolong dipastikan informasi yang masuk jangan ditelan mentah-mentah dan dianggap benar. Pastikan dulu di sana informasinya dari mana, kalau kita menyebar hoaks sama saja menimbulkan keresahan di masyarakat," terang Hengky.
Kombespol Hengky Wijaya mengingatkan agar warga tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.
Tidak cepat percaya pada berita yang tersebar di media sosial.
Sementara itu, informasi yang diterima Tribun Bali dari Kanit Reskrim Polsek Denpasar Barat terkait perempuan berpakaian hitam beserta dua anaknya itu sudah tinggal selama sebulan di sebuah kawasan di Denpasar.
Anggota kepolisian juga sudah datang ke rumahnya.
"Dia baru tinggal sebulan. Sementara anggota saya sudah menuju ke sana tinggal tunggu Babin saja," ujarnya.
Hingga saat ini Bali masih siaga satu, pasca adanya ledakan bom di Jawa Timur.
Bahkan siang tadi sekira Pukul 12.00 Wita, Jalan Wr Supratman tepatnya depan Polda Bali sempat ditutup.
Puluhan anggota polisi dengan bersenjata lengkap bersiaga di depan Polda Bali dan Ditlantas Polda Bali untuk berjaga-jaga.
Menurut pantauan Tribun Bali dengan adanya keterkaitan ledakan yang lagi-lagi terjadi, maka polisi termasuk Polda Bali melakukan atensi ketat.
Siapapun yang masuk ke dalam wilayah Polda Bali diperiksa satu persatu.
Barang-barang bawaan seperti tas dan jaket.
Selain terlihat mengamankan beberapa lokasi jumlah petugas dan atensinya ditambah.
Para tamu maupun umat islam yang hendak melaksanakan ibadah shalat di Masjid At Taqwa Polda Bali semuanya dilakukan pemeriksaan.
Kendaraan, tas jaket semua diperiksa.
Petugas tampak menyuruh tamu sendiri untuk membuka isi tas dan kendaraan.
Setelah ditutup dari Pukul 10.00 Wita, Jalan WR Supratman kemudian dibuka kembali Pukul 12.30 Wita siang tadi.