Tertinggal Dalam Bus Selama Berjam-jam, Bocah TK Ini Ditemukan Tak Bernyawa

Pada pagi hari, 8 anak dibawa ke taman kanak-kanak oleh bus sekolah. Sekitar jam 3 sore, salah seorang bocah ditemukan terbaring dalam bus.

Tayang:
Penulis: Yuyun Hikmatul Uyun | Editor: Yuyun Hikmatul Uyun
weibo
bus sekolah 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Seorang bocah berusia 4 tahun dari Wuhan, China meninggal setelah dikunci dalam bus sekolah selama berjam-jam pada 24 Mei 2018 lalu.

Bocah itu adalah murid TK bernama XingXing di distrik Jiangxia Wuhan, provinsi Hubei.

Pada pagi hari tanggal 24 Mei, XingXing adalah salah satu dari delapan anak yang dibawa ke taman kanak-kanak oleh bus sekolah.

Baca: Mahasiswa Penerima Beasiswa IPB Berikan Santunan Untuk Anak Panti Asuhan

Baca: Kebanyakan Konsumsi Protein Ternyata Berisiko Alami Gagal Jantung Lho, Ini Penjelasannya

Namun, bocah tersebut tak sengaja ditinggalkan di dalam mobil sementara anak-anak lain dibawa ke ruang kelas karena kelalaian pengemudi, bermarga Dai.

Dai, yang merupakan pengemudi paruh waktu, melanjutkan untuk mengendarai kendaraan ke tempat kerjanya dan memarkirnya di tempat parkir.

Sekitar jam 3 sore, bocah itu ditemukan terbaring pingsan di dalam kendaraan.

Bocah itu juga dinyatakan meninggal dunia, setelah upaya penyelamatan gagal.

Baca: Kebanyakan Konsumsi Protein Ternyata Berisiko Alami Gagal Jantung Lho, Ini Penjelasannya

Baca: Ini Alasan Mengapa Tomat Itu Termasuk Dalam Golongan Buah dan Sayur

Sopir dan kepala sekolah TK ditahan karena kelalaian yang menyebabkan kematian bocah laki-laki itu.

Setelah insiden itu, biro pendidikan Jiangxia meluncurkan inspeksi keamanan menyeluruh terhadap taman kanak-kanak swasta di distrik dan berjanji untuk memperkuat manajemen semua kendaraan yang digunakan untuk mengangkut anak-anak.\

lokasi TK
lokasi TK ()

Menurut biro, taman kanak-kanak yang bersangkutan belum memperoleh sertifikat untuk pendidikan prasekolah.

Orang tua seorang anak di taman kanak-kanak tersebut mengatakan memilih sekolah ini karena murah dan dekat dengan rumahnya.

Meskipun tahu taman kanak-kanak itu tidak memiliki sertifikat.

Baca: Dinilai Telah Memihak, Fredrich Yunadi Akan Laporkan Majelis Hakim ke KY dan MA

Baca: Jawaban Jokowi soal Kabar Pertemuan dengan Amien Rais

Feng Guilin, seorang peneliti dari Hubei Academy of Social Science, mengatakan ketika China melonggarkan kebijakan keluarga berencananya yang memungkinkan pasangan memiliki dua anak, ada permintaan yang meningkat untuk pendidikan prasekolah.

Feng mengatakan tragedi itu mencerminkan pengawasan yang buruk atas taman kanak-kanak dan mencerminkan kurangnya sumber pendidikan prasekolah.

Sebuah survei oleh Southwest University pada 2016 menunjukkan jumlah anak-anak usia prasekolah di Cina akan mencapai puncaknya pada 2021 - 15 juta - dan diperkirakan akan ada kekurangan dari 110.000 taman kanak-kanak dan tiga juta guru dan pekerja pengasuhan anak.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved