Bangkitkan Kejayaan Rempah, FAN-IPB Usul Pembentukan Kementrian Perkebunan
Pasalnya, komoditas rempah-rempah sejak era Yunani kuno, Persia hingga Romawi menjadi komoditas perdagangan dunia.
Penulis: Ardhi Sanjaya | Editor: Ardhi Sanjaya
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Mencuatnya pembentukan Kementrian Perkebunan di kabinet mendatang ditanggapi secara kritis ole Forum Alumni Independen IPB (FAN IPB).
Pengarah FAN IPB Muhamad Karim menjelaskan mulai dari sejarah perkebunan di Indonesia pada pra sejarah lalu.
Menurutnya pembentukan Kementrian Perkebunan merupakan upaya yang logis guna memajukan kembali kejayaan sektor perkebunan, khususnya rempah-rempah.
Pasalnya, komoditas rempah-rempah sejak era Yunani kuno, Persia hingga Romawi menjadi komoditas perdagangan dunia.
“Misalnya, Barus di pantai Barat Sumatera, telah menjadi pusat perdagangan rempah sejak zaman Yunani, Romawi dan Mesir kuno. Begitu pula masa kerajaan-kerajaan Nusantara dan puncaknya di era kejayaan Islam pesisir abad 15 hingga 17 komoditas rempah-rempah menjadi primadona perdagangan dunia," katanya dalam Diskusi Kebangsaan menyambut Hari Kebangkitan Pancasil di Kedai Saring, Yasmin, Kota Bogor, pada Jumat (1/6/2018).
Pria alumni IPB 1995 atau pengajar Bioindustri Universitas Trilogi Jakarta itu mengungkapkan hingga para pelaut Eropa (Spanyol, Portugis, Belanda), mulai dari Magelhaens, Vasco da Gama, Colombus dan sebagainya berusaha mencapai kepulauan Nusantara untuk mencari rempah-rempah.
Bahkan, Pulau Run di Maluku Utara, di masa silam ditukar dengan Manhattan antara Inggris dengan Belanda demi bisnis rempah-rempah.
Jadinya, kata Karim, Nusantara di masa silam bisa disebut sebagai Jalur Rempah Maritim (JRM).
"Jika Tiongkok masa silam punya Jalur Sutra, maka Nusantara memiliki JRM," ungkapnya.
Menurut Karim, saat ini memang sedang mencuat wacana pembentukan Kementerian Perkebunan di Indonesia. Karena itu, FAN IPB merasa perlu mencermati hal tersebut secara objektif dan kritis.
Jika menilik sejarah perkebunan di Indonesia, kata dia, Nusantara pada prasejarah, awal kolonial, hingga menjelang Indonesia merdeka memang memegang peranan penting dan menjadi poros maritim dunia (PMD).
Pria alumni IPB 1995 yang kini mengajar Bioindustri di Universitas Trilogi Jakarta itu mengungkapkan, para pelaut Eropa dari Spanyol, Portugis, dan Belanda, mulai dari Magelhaens, Vasco da Gama, Colombus, dan sebagainya berusaha mencapai kepulauan Nusantara untuk mencari rempah-rempah. Bahkan, Pulau Run di Maluku Utara, di masa silam ditukar dengan Manhattan antara Inggris dengan Belanda demi bisnis rempah-rempah.
“Nusantara di masa silam bisa disebut sebagai Jalur Rempah Maritim (JRM). Kalau Cina masa silam punya Jalur Sutra, maka Nusantara memiliki JRM,” ungkapnya.
Pada masa kolonial Belanda, kata Karim, perkebunan rempak, karet, kopi dan teg tetap memegang peranan penting sebagai komoditas andalan hingga berdirinya Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) pada 20 Maret 1602.
“Salah satu yang kita kenal di Indonesia yaitu pelayaran Hongi yang memonopoli bisnis rempah-rempah di kepulauan Maluku,” jelasnya.
Karim menilai, jika bangsa ini ingin mengembalikan dan memperkuat kontribusi perkebunan dalam perekonomian nasional dengan membentuk Kementerian Perkebunan, maka hal pokok yang mesti dipikirkan secara komprehesif ialah kehadiran kementerian ini menjadi penopang dan penghela visi Indonesia menuju PMD.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/fan-ipb_20180602_205653.jpg)