Breaking News:

Pemberontakan PKI

Pemberontakan di Madiun 18 September 1948, Begini Kesaksian Anak Korban PKI

Pemberontakan ini menewaskan Gubernur Jawa Timur RM Suryo, dokter pro-kemerdekaan Moewardi, serta beberapa petugas polisi dan tokoh agama.

Penulis: yudhi Maulana | Editor: Ardhi Sanjaya
KOMPAS.com/Achmad Faizal
Aksi pembakaran bendera PKI di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (27/4/2016) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Hari ini 70 tahun lalu, peristiwa berdarah terjadi di Indonesia.

Tepat pada tanggal 18 September 1948 peristiwa pemberontakan besar-besaran yang terjadi di Madiun, Jawa Timur.

Pemberontakan tersebut ditenggarai dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai-partai kiri lainnya yang tergabung dalam organisasi bernama Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Dikutip dari Wikipedia, Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya kabinet RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan lagi sejak disepakatinya Perjanjian Renville.

Lalu dibentuklah kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut.

Dalam sidang Politbiro PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948, Musso, seorang tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia) ini menjelaskan tentang “pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik” dan menawarkan gagasan yang disebutnya “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”.

Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yakni PKI.

Untuk menyebarkan gagasannya, Musso beserta Amir dan kelompok-kelompok kiri lainnya berencana untuk menguasai daerah-daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Penguasaan itu dilakukan dengan agitasi, demonstrasi, dan aksi-aksi pengacauan lainnya.

Ayahnya Jadi Tersangka Korupsi Massal DPRD Kota Malang, Sang Anak : Saya Tak Kaget

Rencana itu diawali dengan penculikan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang dianggap musuh di kota Surakarta, serta mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI setempat, termasuk kesatuan Siliwangi yang ada di sana.

Sementara perhatian semua pihak pro-pemerintah terkonsentrasi pada pemulihan Surakarta, pada 18 September 1948, PKI/FDR menuju ke arah timur dan menguasai Kota Madiun, Jawa Timur.

Padapada hari itu juga diproklamasikan berdirinya "Republik Soviet Indonesia".

Hari berikutnya, PKI/FDR mengumumkan pembentukan pemerintahan baru.

Selain di Madiun, PKI juga mengumumkan hal yang sama pula di Pati, Jawa Tengah.

Pemberontakan ini menewaskan Gubernur Jawa Timur RM Suryo, dokter pro-kemerdekaan Moewardi, serta beberapa petugas polisi dan tokoh agama.

Peristiwa pemberontakan di Madiun ini meninggalkan duka bagi para korban.

Salah satunya, Siti Asyiah yang masih ingat betul bagaimana ayahnya menjadi korban kekejaman PKI.

Ungkap Dugaan Perselingkuhan, Istri Sah TP Bongkar Cara Lina Dekati Suaminya

Dikutip dari Tribunnews.com, Siti masih mampu menuturkan nasib tragis yang menimpa keluarganya di kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada September 1948, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan.

Siti mengingat umurnya saat itu sekitar 18 tahun.

Sebelum tragedi berlamgsung, ia tinggal di rumah orangtua angkatnya, di desa Kerambe kabupaten Magetan.

Ayahnya saat itu adalah Haji Dimyati, aktivis Masyumi yang juga merupakan seorang penghulu.

Saat anggota PKI melakukan pemberontakan untuk menguasai Madiun dan mendirikan Republik Indonesia Soviet, kabupaten Ngawi yang lokasinya sekitar 35 Kilometer, ikut dijadikan sasaran.

Tokoh Islam di desa Kerambe pun ikut jadi sasaran.

Reino Barack Akui Putus Dengan Luna Maya, Ini Alasannya: Saya Bisa Kasih Semuanya Kecuali Pernikahan

"Bapak saya mengungsi, lari ke kecamatan Widodaren, bersama putra-putranya," kata Siti saat ditemui di sela-sela simposium yang bertajuk "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan Ideologi Lain," di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (2/6/2016).

Ia sendiri tidak sampai mengungsi jauh dari rumah, Siti hanya mengungsi ke rumah tetangga.

Karena mengungsi ke rumah tetangga, ia bisa menyaksikan bagaimana para pendukung PKI yang membakar rumahnya dan menjarah segala harta keluarga.

"Itu (kejadiannya) kami baru sehari mengungsi," ujar Siti dalam bahasa Jawa halus.

Siti Asyiah.
Siti Asyiah. (Tribunnews.com/Nurmulia Rekso)

Walaupun sudah mengungsi jauh, PKI tetap memburu Haji Dimyati dan sejumlah tokoh lainnya.

Mereka kemudian mengirimkan salah seorang kenalan sang penghulu, untuk membujuknya pulang.

Yang ia tahu saat itu Haji Dimyati diberitahu bahwa desa sudah aman, dan para antek PKI sudah pergi.

Akhirnya orang yang dicari-cari PKI itu tertipu, dan maupulang. Sesampainya di kampung halaman, Haji Dimyati langsung diamankan ke markas PKI di desa tersebut.

Sehari setelah ditahan, Haji Dimyati bersama seorang warga Kerambe lainnya,dieksekusi di lubang yang sama.

Siti akhirnya mengetahui nasib bapaknya itu dari sang kepala desa yang tak sempat dieksekusi oleh PKI karena keburu ditumpas.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved