Gempa di Donggala
Warga Ungkap Detik-detik Perumnas Balaroa Palu Amblas 20 Meter : Saya Bergelantung di Kabel Listrik
Perumnas Balaroa ternyata punya dampak yang cukup parah ketika gempa di Palu terjadi, yakni daerah tersebut harus amblas sedalam 20 meter.
Penulis: khairunnisa | Editor: Ardhi Sanjaya
Tak ingin tinggal diam, Siti Hajar pun mengungkap bahwa ia langsung berinisiatif menarik sang kakak dari dalam retakan aspal.
Sang kakak yang berada di dalam aspal pun ikut berusaha agar bisa keluar dari sana.
"Jadi tanahnya amblas, tiang listriknya jadi sejajar (dengan pijakan). Kakak saya sempat tersangkut di retakan jalanan aspal. Akhirnya saya tarik kakak saya, dan bisa lepas dari sana," imbuhnya.
Usai selamat dari ancaman masuk ke dalam aspal yang terbelah, Siti Hajar dan sang kakak pun akhirnya bertahan di atas gundukan.
Namun tak tinggal diam, Siti Hajar mengaku harus selalu waspada karena saat itu gundukan tanah yang berada di sekitarnya berada dalam kondisi rapuh dan mudah retak.

Hingga akhirnya setelah beberapa lama berpindah-pindah tempat, Siti Hajar dan sang kakak beserta warga lainnya menemukan sebuah gundukan tanah besar untuk tempat bertahan selama setengah jam.
"Sampai di atas kami bertahan di atas gundukan, hanya satu detik kemudian gundukan itu terbelah lagi. Jadi cara kami menyelamatkan diri setiap ada gundukan yang tinggi, aspal naik lagi saya naik. Sampai ada gundukan, di situ kami kumpul sekitar 50 orang bertahan sekitar setengah jam," jelasnya.
• Detik-detik Pasha Ungu dan Istri Selamatkan Diri dari Terjangan Tsunami Palu
Lebih lanjut lagi, Siti Hajar pun mengungkap kondisi perumnas Balaroa saat itu.
Ketika peristiwa itu terjadi, Siti Hajar bercerita bahwa sekelilingnya terlihat gelap gulita.
Karenanya, ia dan warga lain tidak bisa melihat secara jelas.
Siti Hajar dan sang kakak pun sempat pasrah serta berharap mendapat bantuan.
Hingga akhirnya mereka bisa menempati posisi yang benar-benar aman yakni di jalanan beraspal tinggi yang berada di samping perumnas Balaroa.
Siti Hajar dan sang kakak serta warga lainnya pun harus mencari jalan dalam posisi gelap menuju tempat yang aman dari retakan aspal selama 5,5 jam.
"Kami saat itu sudah pasrah, karena kondisi gelap gulita. Kami juga berharap saat itu ada bantuan dari basarnas, helikopter, BNPB tapi tidak ada.
Malam kejadian itu sekitar jam 17.30 WITA, yang waktu aspal terbelah. Tapi kami baru bisa manjat sampai jalan raya (area tertinggi) sekitar jam 23.00 WITA," lanjut Siti Hajar.
• Pasha Ungu Beri Kabar Pasca Gempa di Palu, Deretan Artis Ucap Rasa Syukur dan Lega