Ecobrick sebagai Alternatif Pengelolaan Sampah yang Unik dan Inovatif, Siapkah Bogor?
Ecobrick merupakan salah satu solusi untuk memanfaatkan kembali sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang
SAMPAH merupakan persoalan yang tak ada habisnya. Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia sebagai penyumbang sampah terbanyak.
Sampah yang menjadi masalah utama adalah sampah yang tidak bisa terurai, seperti sampah plastik.
Data dari Asosisasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa sampah plastik di Indonesia telah mencapai 64 juta ton/tahun. Sampah plastik membutuhkan waktu sekitar 200 hingga 1.000 tahun untuk dapat terurai.
Bayangkan jika Anda menghasilkan sampah plastik hari ini, sampah tersebut akan tetap ada hingga generasi anak cucu Anda.
Menurut riset terbaru Suistanable Waste Indonesia (SWI) mengungkapkan bahwa sebanyak 24 persen sampah di Indonesia masih tidak terkelola.
Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan sehingga perlu adanya pengelolaan daur ulang sampah plastik untuk mengurangi jumlah sampah yang hanya dibuang dan menimbulkan pencemaran.
Pemerintah Kota Bogor (Pemkot Bogor) melaporkan volume sampah Kota Bogor mencapai 700 ton per hari.
Sebanyak 100 ton diantaranya adalah sampah plastik. Salah satu upaya yang telah diterapkan oleh Pemkot Bogor untuk mengurangi sampah plastik yaitu adanya larangan penggunaan kantong plastik di setiap toko modern dan pusat perbelanjaan (ritel) yang berlaku sejak 1 Desember 2018.
Tahukah Anda? Ada cara inovatif untuk mengolah sampah plastik di sekitar kita, yaitu pengelolaan sampah dalam bentuk Ecobrick.
“Ecobrick merupakan salah satu solusi untuk memanfaatkan kembali sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang dengan cara memasukan bungkus sampah plastik kedalam botol plastik bekas yang dipadatkan”, tutur Fanny (24) selaku founder Jakarta Eco Project.
Saat ini, terdapat beberapa komunitas dan penggerak Ecobrick yang tersebar di Indonesia, diantaranya adalah Jakarta Eco Project, Komunitas Ecobrick Jatiasih dan Ecobricks Indonesia, Tujuan dari komunitas Ecobrick ini adalah mengurangi sampah plastik yang tidak diterima Bank Sampah agar tidak berakhir di TPA maupun di laut.
Komunitas Ecobrick juga berupaya untuk menyadarkan masyarakat agar menjaga lingkungan dengan baik.
Ecobrick dapat dibuat oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Fanny (24) menjelaskan bahwaEcobrick dibuat dengan cara memasukan sampah-sampah plastik yang sudah digunting ke dalam botol bekas berukuran 600 ml atau 1.5 liter.
Kemudian, sampah plastik tersebutdipadatkan menggunakan tongkat kayu atau stik drum. Botol bekas berukuran 600 ml harus terisi sampah plastik hingga memiliki berat minimal 200 gram, sementara botol bekas dengan ukuran 1.5 liter harus terisi hingga 500 gram.
Botol-botol yang telah terisi sampah plastik kemudian dibentuk menjadi meja dan kursi kecil kemudian direkatkan menggunakan lem atau lakban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ilustrasi-pemakaian-kantong-plastik-hitam_20180709_195112.jpg)