Kabar Siswa SD Disuruh Push Up, Orangtua Sebut Anaknya Trauma dan Ungkap Kejadian Sebenarnya

Terlebih peristiwa hukuman push-up ini juga terjadi sekitar 2 bulan yang lalu saat para siswa SDIT Bina Mujtama mengikuti Penilaian Akhir Sekolah

Kabar Siswa SD Disuruh Push Up, Orangtua Sebut Anaknya Trauma dan Ungkap Kejadian Sebenarnya
Tribunnews.com/Naufal Fauzy
Hidayat, orangtua GNS (10) di SD Islam Terpadu Bina Mujtama, Bojonggede, Kabupaten Bogor, diberi hukuman push-up 100 kali karena belum bayar SPP. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOJONGGEDE - Baru-baru ini beredar kabar bahwa seorang siswa berinisial GNS (10) di SD Islam Terpadu Bina Mujtama, Bojonggede, Kabupaten Bogor, diberi hukuman push-up 100 kali karena belum bayar SPP.

Orangtua dari GNS, Hidayat (47), menuturkan bahwa push-up yang dimaksud tidak sebanyak yang dikabarkan dan dirinya dengan pihak sekolah sudah ada pembicaraan dan sudah tak ada masalah.

Hidayat juga membantah jika anaknya ingin pindah sekolah karena hukuman push-up tersebut.

Terlebih peristiwa hukuman push-up ini juga terjadi sekitar 2 bulan yang lalu saat para siswa SDIT Bina Mujtama mengikuti Penilaian Akhir Sekolah (PAS).

"Kalau dia (GNS) trauma karena disuruh push-up, kenapa dia masuk sekolah lagi, kenapa dia masih ikut camping lagi," kata Hidayat kepada TribunnewsBogor.com, saat ditemui di Bojonggede, Selasa (29/1/2019).

Ia menjelaskan bahwa anaknya itu ingin pindah sekolah karena jarak antara rumahnya di Depok cukup jauh dengan SDIT Bina Mujtama di Bojonggede.

"Dia mau pindah sekolah karena memang sekolahnya jauh. Nyari yang deket aja. Bukan karena ada hukuman di sini dan kenapa-kenapa, bukan. Bahkan kakaknya masih di sini, kan dua anak saya sekolah di sini (SDIT Bina Mujtama)," kata Hidayat.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Sekolah SDIT Bina Mujtama Bojonggede, Mochammad Romadhon Budi Setiawan, mengatakan bahwa hukuman push-up itu adalah demi kedisiplinan siswa.

"Ada beberapa bukan hanya ayahnya GNS saja, ada peserta didik lain, ada 6 sampai 7 orang yang memang kena hukuman yang sama tapi tidak sebesar seperti yang sudah beredar. Kita hanya menyebutkan push-up tapi terserah, lakukan push-up tapi tidak sebanyak itu," katanya.

"Tapi intinya kami melakukan itu bukan kekerasan tapi mendisiplinkan. Orangtua punya tanggungjawab, itu pola pendidikan untuk anak-anak bagaimana bisa lebih disiplin dalam melakukan pembelajaran dalam penilaian akhir semester," tambahnya.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved