Tersangka Pembunuhan Balita di Bogor Mamah Muda dan Sering Ditinggal Suami, Ini Kata KPAI

ZFL merupakan ibu muda berusia 20 tahun yang mengurus dua anak, satu anak kandung berusia 1,5 tahun dan anak tirinya usia 4,8 tahun.

Tersangka Pembunuhan Balita di Bogor Mamah Muda dan Sering Ditinggal Suami, Ini Kata KPAI
istock
ilustrasi kekerasan pada anak kecil 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Seorang ibu muda usia 20 tahun berinisial ZFL tetapkan sebagai tersangka tindak kekerasan terhadap anak tirinya.

Prilaku tersebut diketahui ketika pihak Puskesmas memeriksa kondisi tubuh SU anak tiri ZFL yang meninggal dunia dengan kondisi luka lebam.

Dibalik kasus kekerasan tersebut terungkap bahwa ZFL merupakan ibu muda berusia 20 tahun yang mengurus dua anak, satu anak kandung berusia 1,5 tahun dan anak tirinya usia 4,8 tahun.

Tak hanya itu, tersangka rupanya sering ditinggal suami tugas ke luar kota.

Menyikapi peristiwa kekerasan terhadap anak tersebut, KPAI Kota Bogor angkat bicara.

Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI Kota Bogor Sumedi menyoroti dugaan penyebab terjadinya prilaku kekerasan tersebut.

"Usia saat ini 20 tahun, anak kandungnya 1,5 tahun berarti dia (tersangka) kemungkinan menikah diusia 17 sampai 19 tahunn, nah usia masih muda menikah kemudian menghadapi situasi seperti itu, tidak mampu dan tidak kuat seharusnya jika menghadapi seperti itu harus ada yang mendampingi," ujarnya saat dihubungi TribunnewsBogor.com Kamis (19/9/2019).

Sumedi pun mengatakan seharusnya pemerintah kota sebagai pemangku kebijakan memiliki program yang bisa menyasar kondisi tersebut.

Karena menurutnya hal itu bisa diteksi sejak dini, kedepan kata Sumedi, KPAI pun akan membuat program pojok parentig.

"Makanya saya berinisiasi dengan aktivis di Kota Bogor mendorong adanya pojok parenting disetiap kelurahan,tujuannya agar ketika orangtua mengalami kebuntuan dalam mendidik anak ketika orangtua muda megalami ketidak mampuan mendidik anak maka kita para aktifis para voluntir mendidik anak ini akan muncul dengan adanya fasilitas psikologinya konselingnya ini kita akan gabung membuat program satu keselurahan ketika berhasil akan kita kembangkan lagi ini ini perlu agar kita bisa mendeteksi sejak dini sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan," ucapnya.

Selain itu Sumedi juga menyinggung soal banyaknya program pemerintah daerah yang lebih banyak fokus pada pembangunan fisiknya.

"Gini ya kang kita melihat banyaknya pemerintah daerah, maaf ya kang, terlalu menumpuk pada program bersifat fisik kalau fisik mah bisa dilakukan kapan saja jalan bagus diaspal, tembok bagus di semen, bangunan tinggi bagus-bagus apakah itu menjamin bagaimana sdm nya bagaimana karakter anak abak bangusany kan tidak," katanya.

Ia pun berharap agar ada program yang tepat yang bisa dijadikan satu kebijakan mendasar untuk membangun karakter anak dan sumberdaya manusia.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved