Nelayan Minta Sertifikat ke Jokowi

Bertahan Sampai Bisa Bertemu Jokowi di Bogor, Nelayan Asal Banyuwangi Bawa Pesan Soal Lingkungan

Enam orang warga Dusun Pancer Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang berprofesi sebagai nelayan terkatung-katung di Bogor.

Bertahan Sampai Bisa Bertemu Jokowi di Bogor, Nelayan Asal Banyuwangi Bawa Pesan Soal Lingkungan
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Perwakilan Warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memilih bertahan di sekitar Istana Bogor untuk bertemu Presiden Joko Widodo agar bisa menyampaikan surat titipan warga untuk menyampaikan keluh kesah terkait sertifikat tanah dan aktifitas tambang. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Enam orang warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang berprofesi sebagai nelayan terkatung-katung di Bogor.

Keenam nelayan asal Banyuwangi ini berangkat ke Kota Bogor sejak lima hari lalu menggunakan dana swadaya dari warga ditempatnya mereka tinggal.

Seorang nelayan Gitorolis mengatakan bahwa mereka membawa pesan tentang lingkungan.

"Jadi kita disini atas sumbangan, sumbangan sukarela masyarakat, jadi masyarakat nyumbang terus kita kumpulkan, jadi saya keliling menerima sumbangan dari masyarakat yang sadar akan kepentingan bersama untuk lingkungan, dan bisa terkumpul dana secukupnya sampai kita beratahan," katanya, Senin (2/12/2019).

Tak hanya itu kedatangan para nelayan ini pun untuk meminta perhatian dan kepedulian Presiden Joko Widodo atas nasib warga yang sampai saat ini tidak memiliki sertifikat tanah.

Seorang Nelayan asal Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Gitorolis (35) mengatakan bahwa kedatangannya tersebut untuk menyampaikan sulitnya mengurus sertifikat tanah diwilayah tempatnya tinggal.

Kekhawatiran tersebut lantaran pemukiman warga berdekatan dengan lokasi Tambang Emas.

Mereka pun khawatir eksploutasi tambah emas sampai ke pemukiman warga.

"Jadi Kami disini datang untuk mengurus sertifikat tanah, jadi sertifikat tanah kami yang selama ini tidak bisa terealisasi jadi memohon bisa berjumpa dengan presiden untuk mengutarakan apa yang dikeluhkan oleh desa kami, bukan hanya kami tapi hampir 3000 KK di dusun kami," katanya saat ditemui tak jauh dari Istana Bogor, Senin (2/12/2019).

Gitorolis menngatakan bahwa pihaknya akanbterus bertahan sampai bisa bertemu Jokowi.

"Jadi semoga dengan bertahannya kamidisini bisa bertemu dengan pak presiden," katanya.

Sementara itu Miswati (41) mengatakan bahwa Ia bersama enam warga lainnya terpaksa luntang lantung dan tinggal di di mushola selama menunggu kepastian.

Ia pun sangat berharap bisa bertemu Presiden Joko Widodo untuk menyamoaikan keluh kesah dan surat titipan dari warga.

"Tinggal di mushola di pom bensin, ya asal bisa berteduh dan rebahan untuk istirahat sampai menunggu, semoga bsia cepat bertemu Pak Presiden," katanya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved