Teror Virus Corona
Kenapa Banyak Pasien Virus Corona Meninggal di Italia ?
Faktor ini termasuk angka yang tinggi terhadap konsumsi rokok dan polusi udara.
Pasien yang berusia lanjut memiliki kebutuhan untuk fasilitas yang memadai dan lengkap.
Jaringan rumah sakit di Italia kewalahan menghadapi hal ini.
Seorang perawat membawa perangkat darurat di Rumah Sakit Cremona, tenggara Milan, Lombardy, Italia, Rabu (11/3/2020).
Selain itu, Ricciardi juga menyebutkan bahwa tingginya mortality rate di Italia disebabkan oleh cara dokter/ petugas medis menghitung angka kematian.
“Pasien yang meninggal di rumah sakit yang menangani virus corona, dihitung sebagai pasien meninggal karena virus corona itu sendiri,” tuturnya.
Ricciardi menuturkan bahwa berdasarkan reevaluasi yang dilakukan oleh National Institute of Health, hanya 12 persen dari total pasien yang meninggal karena virus corona.
“Sementara 88 persen pasien memiliki setidaknya satu penyakit bawaan. Banyak yang memiliki dua atau tiga,” tambahnya.
• Cara Kocak Bintang Emon Ingati Warga Waspada Virus Corona, Jubir Presiden Apresiasi : Salam Hormat
• Update Virus Corona di Bali, Pasien Covid-19 Bertambah 2 Orang
Skeptisisme terhadap data
Para ilmuwan lainnya juga memiliki skeptisisme terhadap data kematian di Italia.
Martin McKee, Profesor of European Public Health di London School of Hygiene and Tropical Medicine, menyebutkan bahwa negara tersebut belum memiliki perhitungan terhadap gejala ringan virus corona. Jika lebih banyak tes dilakukan kepada orang yang asimptomatik (tidak menunjukkan gejala), maka angka kematian dirasa akan menurun.
“Terlalu dini untuk membandingkan Italia dengan negara-negara lain di Eropa. Kita tidak tahu berapa banyak orang asimptomatik yang menyebarkan virusnya,” tambah ia.
Ilmuwan lain memiliki pemikiran adanya faktor lain terkait tingginya angka kematian akibat virus corona di Italia.
Faktor ini termasuk angka yang tinggi terhadap konsumsi rokok dan polusi udara.
Hal tersebut berdasarkan data bahwa mayoritas pasien yang meninggal berasal dari wilayah Lombardy bagian Utara, yang memiliki kualitas udara cukup buruk dibandingkan wilayah lainnya.
Dr Mike Ryan selaku Health Emergencies Programme Executive Director dari WHO menyebutkan bahwa para dokter di Italia kewalahan menangani pasien sebanyak itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/orang-orang-italia-yang-dikarantina-akibat-virus-corona-menyanyi-bersama-di-atas-balkon.jpg)