Virus Corona di Bogor
Cerita UMKM di Bogor Salurkan APD Secara Gratis, Miris Lihat Tenaga Kesehatan Pakai Jas Hujan
di tengah pandemi Virus Corona atau Covid-19, UMKM ini tergerak untuk kemanusian memproduksi APD untuk para tenaga medis secara gratis.
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Ardhi Sanjaya
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Sebuah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kampung Cibereum RT 01/01, Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor rela produksi Alat Pelindung Diri (APD) untuk disalurkan secara cuma-cuma.
UMKM ini bernama Pelangi Hijab yang bergerak dalam produksi busana muslim.
Namun, di tengah pandemi Virus Corona atau Covid-19, UMKM ini tergerak untuk kemanusian memproduksi APD untuk para tenaga medis secara gratis.
"Karena lihat miris banget gitu ya tenaga kesehatan pakai plastik atau jas hujan gitu. Ya udah deh inisiatif karena banyak yang bilang kalau APD itu susah didapetin akhirnya bikin deh," kata pemilik UMKM Pelangi Hijab Anindita Santoso kepada TribunnewsBogor.com, Jumat (3/4/2020).
Dia mengaku bahwa APD yang diproduksi ini dikirim ke rumah sakit yang membutuhkan secara cuma-cuma.
Terkait modal, Anindita mengaku bahwa modal pembuatan APD ini menggunakan keuntungan penjualam busana muslim.
Bahkan sebanyak 30 orang karyawannya tetap digaji normal.
"Dananya dari keuntungan bulan kemaren, karyawan tetap dibayar. Murni dari Pelangi Hijab sendiri, dari customer-customer yang belanja ke kita, keuntungan kita, kita khususkan untuk baju APD," kata Anindita Santoso.
Dia menceritakan bahwa sejauh ini Pelangi Hijab sudah memproduksi sekitar 2.480 APD.
Setiap harinya mampu memproduksi 250 sampai 300 APD.
APD ini sudah disalurkan ke rumah sakit di berbagai daerah bahkan sampai ke Papua.
"Total 2.480-an APD sudah kita sebar ke Tangerang Jakarta, Bogor sampai Papua. Sehari bisa produksi 250 sampai 300 APD, alhamdulillah ini disalurkan gratis," kata Anindita Santoso.
Terkait APD yang diproduksi ini, kata Anindita, juga bukan sembarangan karena dia berkonsultasi terlebih dahulu dengan beberapa temannya yang berprofesi sebagai dokter sebelum melakukan produksi.
Kain yang dipakai, lanjut dia, merupakan kain taslan yang memiliki kandungan 95 persen plastik dan 5 persen polister.
"Kalau baju APD itu punya standar WHO, kata dokter kalau yang standar itu susah didapet. Kalau ada pun mahal banget, Rp 2 juta, Rp 1,5 juta, jadi mereka sulit dapet itu. Akhirnya kita diskusi sama beberapa teman dokter, baju apa yang pantas dipakai, akhirnya baju yang terbuat dari plastik aja, ya intinya jangan sampai pakai jas ujan banget lah," ungkapnya.