Teror Virus Corona

KRL Kemungkinan Distop Mulai 18 April, Luhut ke Anies : Kenapa Masih Banyak Orang ke Jakarta

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil nampak sepakat dengan usulan pemberhentian sementara operasional KRL.

Penulis: Mohamad Afkar S | Editor: Soewidia Henaldi
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian
Stasiun Bogor menambang jadwal keberangkatan KRL Commuter Line di malam tahun baru. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Lima kepala daerah di Jawa Barat mengusulkan pemberhentian sementara operasional KRL Commuter Line selama Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ).

Hal itu tersebut guna mendukung penerapan PSBB di wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi ( Bodebek ) sebagai upaya pencegahan penularan virus corona atau Covid-19.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim membenarkan usulan tersebut.

Ia mengatakan, usulan itu tersebut disampaikan saat rapat video conference pada Senin (13/4/2020) sekitar pukul 18.30 WIB.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun nampak sepakat dengan usulan pemberhentian sementara operasional KRL.

Menurutnya, usulan tersebut kemungkinan mulai diterapkan pada Sabtu (18/4/2020).

Namun, kata Ridwan Kamil, keputusan tetap berada di tangan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sebagai operator.

"Hasil kajian dari KCI kemungkinan akan tanggal 18, berbarengan dengan PSBB Tangerang," ujar Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil kepada wartawan di Depok, Rabu (15/4/2020).

"Di tanggal itu, PT KCI menginfokan saya untuk menihilkan, baru kita evaluasi," sambungnya.

Waspada Dugaan Gejala Virus Corona Berupa Memar dan Ruam yang Mengeras pada Kaki, Ini Penjelasannya

Sopir Ambulans Menangis, Cerita Sehari Antar Puluhan Jenazah Covid-19, Najwa Shihab Tahan Air Mata

Dalam kunjungannya ke Kota Bekasi, Ridwan Kamil juga mengungkapkan hal yang serupa.

Rencana penghentian operasional KRL akan "nanggung" seandainya dilakukan sekarang.

Pasalnya, Tangerang Raya belum berstatus PSBB, sementara itu Jabodebek sudah.

 "Kalau sekarang dilakukan, (sedangkan) Tangerang belum PSBB, nanti enggak sinkron lagi. Nanti kita lihat hasil evaluasi. Bukan dari saya, dari KCI," lanjut dia.

PT KCI sebut masih membahasnya

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) angkat bicara terkait adanya usulan pemberhentian sementara operasional kereta rel listrik (KRL).

Penumpang berdesakan di gerbong KRL
Penumpang berdesakan di gerbong KRL (Tangkap layar Twitter/@TMCPoldaMetro)

Diiwartakan Tribunnews.com sebelumnya, Manager External Relations KCI Adli Hakim menyebut usulan tersebut masih dalam tahap pembahasan.

Hal ini disampaikan Adli dalam program Metro Siang yang dikutip dari YouTube Metrotvnews, Rabu (15/4/2020).

"Jadi usulan tersebut dapat kami sampaikan hingga sekarang masih dalam pembahasan tentu dari pemangku kepentingan yang terkait," ujar Adli melalui sambungan telepon.

"Yakni baik itu pemerintah di level kementerian mapupun di pemerintah daerah," imbuhnya.

Lebih lanjut Adli menegaskan selama usulan itu masih dibahas, KCI masih menyediakan layananan bagi pengguna KRL sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Percepat Bansos untuk Warga Terdampak Corona, Ini Beberapa Bantuan yang Telah Disalurkan Pemerintah

Kaget Lihat Tangan Kakek Masuk Mobil saat Bagi-bagi Masker, Andre Taulany Tegas Beri Sikap Begini

"Selama masa pembahasan ini memang kami sebagai operator di Kereta Commuter Indonesia mengoperasikan KRL Jabodetabek masih seusai dengan jadwal PSBB di DKI Jakarta," kata Adli.

Kendati demikian Adli menuturkan pihaknya juga belum memutuskan terkait skema penghentian jika usulan tersebut disetujui.

"Ya kalau kami belum bisa bicara sampai kesana (skema penghentian) karena masih dalam tahap pembahasan," ujarnya.

"Yang pasti sebagai operator kami mengikuti, karena upaya pembatasan untuk mencegah corona ini kan upaya bersama, jadi tidak mungkin kami memutuskan sendiri," imbuhnya.

FOLLOW:

Mengingat lanjut Adli ada banyak sekali pihak-pihak terkait yang harus juga dikonsultasikan untuk mengambil kebijakan tersebut.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Menhub Ad Interim Luhut B Pandjaitan masih mempertimbangkan penghentian layanan KRL commuter line Jabodetabek.

Dirinya pun telah berkomunikasi kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenai banyaknya masyarakat Bodetabek masih bepergian ke Jakarta meski telah ditetapkan status pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Tadi Pak Gubernur DKI, Pak Anies bicara mengenai KRL. Pak Anies tolong dilihat kenapa masih banyak orang ke Jakarta. Soal mau menutup KRL kita lihat, karena enggak bisa seperti membalikkan tangan," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/4/2020).

Pelanggar PSBB di Bogor yang Terjaring Razia Diberi Surat Teguran, Ini Penjelasan Polisi

PSBB di Bogor Resmi Dilaksanakan, Ridwan Kamil Ingatkan Soal Sanksi Hukum

Pertimbangan Luhut masih mengevaluasi operasional KRL, di antaranya, karena transportasi tersebut masih menjadi pilihan masyarakat Bodetabek untuk melakukan perjalanan antarkota.

Selain itu, menyangkut pengiriman logistik, Luhut tidak ingin hal itu terganggu.

"Karena kalau ada yang traveling karena penting, kan enggak bisa juga. Logistik juga kita enggak mau terganggu," katanya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menjelaskan bahwa, penumpukan penumpang di KRL pada Senin (13/4/2020) terjadi karena ada perusahaan di Jakarta tidak menaati aturan PSBB.

"Jadi penumpukan-penumpukan ini terjadi bukan semata-mata karena mereka mau bepergian tapi karena perusahaan-perusahaan tidak menaati ini," kata Anies saat konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Senin malam.

Penumpang KRL mulai menurun hari pertama

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, jumlah penumpang KRL mengalami penurunan pada hari pertama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ).

Dedie menyebut kondisi tersebut sudah turun 50 persen.

"Tadi kita meninjau langsung, memastikan bahwa di gerbong ada social distancing dan physical distancing, tadi kita lihat Alhamdulillah ada penurunan jumlah penumpang signifikan, paling tidak 50 persen," ujarnya.

Dedie mengatakan bahwa biasanya jumlah penumpang mencapai 280 ribu namun saat ini hanya 110 ribu.

Di sisi lain, Dedie A Rachim mengakui bahwa mobilitas pengguna jalan masih tinggi.

Pantauan TribunnewsBogor.com Rabu (15/4/2020) ketika pagi dan sore kondisi lalu lintas di Kota Bogor masih ramai meski diberlakukannya PSBB.

Bahkan sempat terjadi kepadatan pada siang hari di beberapa ruas jalan.

Tak hanya itu, beberapa pengguna jalan pun melanggar aturan PSBB.

Di antaranya adalah pembatasan penumpang dan physical distancing di dalam kendaraan.

Kemudian beberapa pengguna kendaraan roda dua juga ada yang tidak menggunakan masker, bahkan banyak yang tidak menggunakan sarung tangan.

Sementara itu mengenai hari pertama penerapan PSBB di Kota Bogor, Ridwan Kamil mengklaim bahwa tujuan dari PSBB sudah terlihat

"Laporan dari Jasa Marga intensitas kendaraan yang melewati pintu masuk lewat Tol Jagowari itu sudah turun hampir 50% jadi setengahnya, jadi sementara' tujuan dari PSBB terlihat ada hasilnya di pagi ini," ujarnya setelah meninjau lokasi chek poin di pintu keluar Tol Bogor, Rabu (15/4/2020).

(TribunnewsBogor.com/Kompas.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved