Breaking News:

Pria Ngamuk Saat PSBB

Pria di Kota Bogor Mengamuk saat PSBB, Wakil Wali Kota : Padahal Gak Usah Ngotot

pria mengamuk di hadapan sejumlah petugas gabungan yang melakukan pengawasan Pembatasan Sosial Berskala Besar

Istimewa
Pria mengamuk di hadapan sejumlah petugas gabungan yang melakukan pengawasan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kota Bogor beredar, Minggu (3/5/2020). (Istimewa) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR SELATAN - Sebuah video pria mengamuk di hadapan sejumlah petugas gabungan yang melakukan pengawasan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kota Bogor beredar, Minggu (3/5/2020).

Video berdurasi 2 menit 16 detik itu diketahui terjadi di Simpang Empang, Bogor Selatan, Kota Bogor.

Di dalam video tersebut pria yang mengenakan masker, kaus hitam dan celana jins biru ini tampak tak terima terkait harus duduk terpisah dengan istrinya di dalam mobil.

"Mohon maaf ya, ini prinsip hidup saya. Sebaik-baiknya lelaki muslim yang menghargai istrinya. Saya tidak mau memindahkan istri saya ke belakang," teriak pria tersebut dengan nada amarah sambil menunjuk mobil hitamnya di hadapan petugas.

Meski pria itu berbicara dengan nada tinggi, petugas Polisi Militer (PM) yang ada di lokasi tetap mencoba memberikan penjelasan dengan tenang.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim pun merespon video yang beredar tersebut.

BREAKING NEWS - Beredar Video Pria Mengamuk saat PSBB Bogor, Sebut-sebut Nama Bima Arya

Jadwal TVRI Belajar dari Rumah, Senin 4 Mei 2020: SD Kelas 4-6 Belajar Operasi Hitung Bilangan

Dia menjelaskan bahwa tujuan pembatasan dalam PSBB adalah meminimalisir pergerakan warga dengan cara pengaturan konfigurasi di kendaraan maupun arah tujuan kepergian.

"Seharusnya setiap warga memahami bahwa petugas di lapangan itu dalam rangka menegakkan aturan," kata Dedie A Rachim kepada wartawan, Minggu (3/5/2020).

Dia menjelaskan bahwa Pemkot Bogor hanya melaksanakan turunan dari Peraturan Kementrian Kesehatan (Permenkes) terkait PSBB.

"Bukan pemerintah daerah yang mengada ada. Perubahan Kebijakan di Pusat tinggal kita laksanakan. Bahasa gampangnya, supaya warga memahami situasi yang tidak normal dan perlu model pembatasan. Padahal enggak usah ngotot, tinggal pindah aja. Namanya saling menghormati," ungkap Dedie A Rachim.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved