Breaking News:

Pasca Insiden Penyerangan dan Pemakaman 6 Laskar, Begini Suasana Markas FPI Puncak Bogor

Pasca insiden penyerangan di Tol Jakarta - Cikampek KM 50 dan juga pemakaman 6 orang diduga pengikut Habib Rizieq Shihab (HRS

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Pintu masuk ke Pondok Pesantren Agrokultural sekaligus Markas Syariah Front Pembela Islam (FPI) di Megamendung, Kabupaten Bogor. Dokumentasi 10 November 2020. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, MEGAMENDUNG - Pasca insiden penyerangan di Tol Jakarta - Cikampek KM 50 dan juga pemakaman 6 orang diduga pengikut Habib Rizieq Shihab (HRS), Pesantren sekaligus Markas Front Pembela Islam (FPI) di Megamendung, Puncak Bogor dijaga ketat.

Sejumlah laskar FPI terpantau berkumpul di pos penjagaan pintu gerbang masuk markas tersebut.

Pintu masuk ke markas FPI ini terpantau berupa pertigaan jalan yang juga dipasangi portal dan kamera pemantau CCTV.

Dari pintu gerbang ke lokasi markas ini terlihat dari papan informasi petunjuk arah yang dipasang berjarak sejauh sekitar 3 KM.

Penjagaan ketat ini sudah terlihat jelas dari kejauhan beberapa ratus meter dari lokasi pintu gerbang.

Mereka juga tampak fokus memantau siapapun yang mendekati pintu markas maupun warga yang melintas.

Sesekali mereka juga terlihat memfoto siapa pun yang mereka nilai terlihat mencurigakan di sekitar pintu gerbang masuk itu.

Diketahui, enam orang diduga pengikut HRS tewas dalam insiden penyerangan di Tol Jakarta - Cikampek KM 50 pada Senin (7/12/2020) lalu.

Ke-6 orang ini dimakamkan di area Markas FPI, Megamendung, Puncak Bogor pada Rabu (9/12/2020) pagi setelah beberapa jam sebelumnya disemayamkan di Petamburan, Jakarta.

Proses pemakaman tersebut berlangsung dengan penjagaan ketat dan tidak sembarang orang bisa ikut hadir.

Bahkan kepala desa setempat pun tidak ikut masuk ke area markas untuk mengikuti prosesi pemakaman tersebut.

"Saya juga tidak menghadiri langsung ke sana karena dijaga ketat lah, satu karena itu, kedua karena menghindari kerumunan," kata Kepala Desa Kuta Kusnadi kepada wartawan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved