Breaking News:

Satpol PP Ungkap Cerita saat Masuk ke Sarang PSK, Temukan Wanita Tak Berbusana : Kamarnya Kita Ketok

Sejumlah perempuan diduga PSK bersama pria hidung belang berhasil diamankan petugas untuk dilakukan pemeriksaan.

Penulis: Damanhuri | Editor: khairunnisa
Warta Kota
Ilustrasi PSK 

"Artinya dapat disimpulkan persetubuhan belum terjadi. oleh sebab itu, peran dari penyewa masih kami dalami," kata Paksi.

Pria yang ada di kamar hotel itu berusia 39 tahun.

Menurut Paksi, pria itu berinisial R.

R memang sengaja memesan 4 perempuan sekaligus untuk melampiaskan napsunya.

"Iya (pesan empat sekaligus). Sesuai dengan keterangan dari dia (R) dan juga dari muncikari," kata Paksi.

R memesan 4 perempuan pada Rama (19).

Dalam perjanjiannya, mereka sepakat dengan harga Rp 20 juta unti 4 perempuan.

"Kalau itu dari pembicaraan awal dia (R) dengan muncikari adalah sekitar Rp 20 juta. Jadi, satu anak dihargai Rp 5 juta," jelas AKP Paksi Eka Saputra.

R sendiri merupakan seorang karyawa swasta.

R lantas memberikan uang Rp 20 juta pada Rama.

Namun Rama rupanya tak memberikan semua uang tersebut pada 4 gadis yang disewa R.

"Faktanya, yang diberikan muncikari kepada si korban beragam. Ada yang Rp 1 juta, Rp 1,5 juta, dan yang paling mahal Rp 3 juta," kata Paksi.

Empat PSK di bawah umur yang diamankan aparat Polsek Tanjung Priok karena terlibat prostitusi online.
Empat PSK di bawah umur yang diamankan aparat Polsek Tanjung Priok karena terlibat prostitusi online. (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Selisih angka dari masing-masing gadis menjadi keuntungan bagi Rama.

"Selisih angka dari keuntungan tersebut untuk si mucikari," kata Paksi.

Pengakuan Rama

Melansir Tribun Jakarta, Rama (19), muncikari yang jajakan PSK remaja di hotel kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, memilih terjun ke dunia prostitusi karena kebutuhan ekonomi.

Menurut pengakuannya, uang hasil bisnis lendir ini digunakan untuk biaya sekolah adiknya hingga membayar uang kontrakan.

"Uangnya buat bayarin sekolah adik. Adik saya masih SMP di Citayam," kata Rama di Mapolsek Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (27/1/2021) malam.

Rama (19), muncikari yang jajakan PSK di bawah umur, saat memberikan keterangan di Mapolsek Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (27/1/2021) malam /TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Rama (19), muncikari yang jajakan PSK di bawah umur, saat memberikan keterangan di Mapolsek Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (27/1/2021) malam /TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino ()

Rama tinggal bersama ayah dan ibunya di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Beberapa tahun ini, sang ayah diakuinya sudah tak bekerja.

Sementara ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di sekitar rumahnya.

Rama pun mengaku uang hasil menjalankan praktik prostitusi ini juga dipergunakan untuk membayar kontrakan.

"Bapak nganggur, ibu dagang. Jadi buat bayar kebutuhan di rumah, buat bayar kontrakan," ucap dia.

Rama sudah dua tahun belakangan berkecimpung di dunia prostitusi.

Dirinya memilih jalan menjadi muncikari setelah lulus dari bangku SMA pada 2018 lalu.

"Karena posisi saya lagi dalam keadaan nggak kerja. Jadi saya kayak pusing dengan nyari kerjaan, terus saya ikut jadi kayak muncikari gitu," kata Rama.

Tangkapan layar video penggerebekan praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di salah satu hotel di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Tangkapan layar video penggerebekan praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di salah satu hotel di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (istimewa)

Diceritakan Rama, setelah lepas dari pendidikan formal, dirinya sempat kebingungan mencari pekerjaan.

Di sela-sela menganggur, Rama mengaku ada seorang teman yang mengenalkannya dengan dunia prostitusi.

Lantaran sudah kepalang butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari, Rama akhirnya memilih menjadi muncikari.

"Awalnya sih dari teman-teman saya gitu. Terus saya ditawar-tawarin gitu. Akhirnya saya mau nggak mau jadi kayak begitu (muncikari)," ucap dia.

Menurut Rama, ada dua orang temannya yang juga menjadi muncikari dalam bisnis lendir gadis belia ini.

Dua orang tersebut, kata Rama, ialah seorang pria bernama R dan wanita bernama M.

Rama mengaku awal dirinya mencari-cari remaja belasan tahun untuk dijadikan PSK berdasarkan perkenalannya dengan kedua orang itu.

"Ada temen yang nanya gitu, terus tiba-tiba kayak 'ada yang mau (PSK) nggak?' Gitu. Nanyanya lewat WA, nanyain biasa aja," kata Rama.

Keempat gadis remaja yang dijajakan Rama merupakan warga Jakarta Pusat yang kerap kali diajaknya ikut nongkrong di kafe-kafe.

Karena masih muda dan banyak diminati lelaki hidung belang, gadis-gadis bau kencur ini dibanderol paling murah Rp 1,5 juta dan paling mahal Rp 6 juta.

Di kafe-kafe tersebut lah biasanya Rama akan bertransaksi dengan para pelanggan yang berasal dari kalangan pekerja hingga pengusaha.

Dari situ, Rama tinggal menunggu para pelanggannya mengatur jadwal serta memesan hotel.

Apabila jadwal dan tempat sudah ditentukan, Rama akan mengantarkan PSK untuk bertemu dengan si pelanggan.

"Bayarnya cash, langsung cash. Nggak pake DP. Itu (hotel) dari gadunnya sih, dari gadunnya sendiri, dari omnya," ucap Rama.

Dari si pelanggan, Rama akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 2 juta.

Uang tersebut, selama dua tahun terakhir, digunakan Rama untuk memenuhi biaya hidup keluarganya.

(TribunnewsBogor.com/Tribunnews.com/ Tribun Jakarta)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved