IPB University

Bahas Kualitas Jurnal Ilmiah, Prof Dodik Ingatkan Dosen Muda IPB Tidak Terlalu Banyak Memasukan Ide

produktivitas tulisan perlu diperhatikan apabila ingin menulis artikel ilmiah dan artikel popular di saat yang bersamaan. 

Humas IPB
Wakil Rektor IPB Prof Dr Ir Dodik Ridho Nurrochmat 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS) IPB University menggelar Workshop Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah bagi dosen muda dan peneliti IPB University.

Tema yang diangkat adalah “Strategi Menulis Artikel Ilmiah di Jurnal Terindeks Scopus Level Q1 dan Q2.”

Webinar kali ini mengundang narsumber Prof Dodik Ridho Nurrochmat, Wakil Rektor IPB University Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama dan Hubungan Alumni.

Pada kesempatan ini, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB  University ini mamaparkan pengalamannya serta berupaya untuk merefleksikan pengalaman peneliti yang lain.

Baru-baru ini sitasi yang cukup banyak dimuat oleh penulis lain adalah jurnal ilmiah yang telah terindeks Scopus Q1.

Pengakuan tersebut menggambarkan bahwa jurnal yang terindeks Q1 sudah terjamin kualitasnya sehingga layak untuk disitasi.

Pakar Manajemen Hutan IPB University ini menceritakan, dirinya memulai menulis jurnal berawal dari tertantang untuk menulis di media populer.

Namun, yang menjadi pertimbangan bagi penulis yakni produktivitas tulisan perlu diperhatikan apabila ingin menulis artikel ilmiah dan artikel popular di saat yang bersamaan. 

Hal tersebut karena gaya penulisan antara artikel ilmiah dan artikel popular di media massa pun berbeda.

"Jurnal ilmiah yang belum terindeks Q1 memang tidak serta merta tidak menjamin kualitas kepakaran. Namun pengakuan atas jurnal ilmiah apabila dilihat dari indeks scopusnya dapat membuka peluang peneliti untuk bergabung dalam kelompok peneliti elit," ujarnya.

Lebih lanjut ia menyarankan bagi para penulis muda untuk tidak terlalu banyak memasukkan ide serta harus mematahkan tekanan psikologis untuk langsung menulis jurnal terindeks Q1. 

Menurutnya, penulis  juga harus menghindari sibuk mencari alasan yang menjadi persoalan utama  dalam menghambat keinginan untuk mulai menulis.

"Dalam penulisan jurnal ilmiah, penulis juga harus memperhatikan permasalahan etika dan common sense. Misalnya dalam kesepakatan urutan nama penulis utama dan penulis dampingan karena tidak boleh diremehkan," kata Prof Dodik.

Di samping itu, peluang jurnal ilmiah agar dapat diterbitkan dapat dilihat dari jumlah penulis Indonesia yang  menerbitkan jurnalnya di suatu negara.

Semakin banyak jurnal hasil kreativitas penulis Indonesia maka peluang diterbitkan semakin besar. Lebih lagi editornya merupakan orang Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved