Breaking News:

Polres Bogor Ungkap Peredaran Biang Tembakau Gorila dari China, Nilainya Sampai Rp 23 Miliar

Kapolres Bogor AKBP Harun mengatakan bahwa dalam pengungkapan ini pihaknya berhasil menyita total barang bukti sebanyak 23 Kg biang sintetitis.

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Ardhi Sanjaya
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Polres Bogor rilis pengungkapan kasus peredaran narkoba biang tembakau gorila atau biang sintetis benilai puluhan Miliar Rupiah, Jumat (10/9/2021). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Satuan Reserse Narkoba Polres Bogor berhasil mengungkap kasus peredaran narkoba biang tembakau gorila atau biang sintetis senilai puluhan Miliar Rupiah.

Biang sintetis berupa serbuk ini merupakan bahan utama dalam produksi narkoba tembakau gorila.

Pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan dan sebanyak 7 orang tersangka ditangkap, diantaranya di Bandung dan Bintaro.

Kapolres Bogor AKBP Harun mengatakan bahwa dalam pengungkapan ini pihaknya berhasil menyita total barang bukti sebanyak 23 Kg biang sintetitis.

Jika 23 Kg biang sintetitis dijadikan tembakau, bisa mencapai sebanyak 800 kg tembakau gorila.

"Penjualannya 1 gram itu bisa sampai Rp 1 jutaan. Jadi kalau kita totalkan 23 kg itu kurang lebih Rp 23 Miliar nilainya," kata AKBP Harun dalam jumpa pers di Mapolres Bogor, Jumat (10/9/2021).

Dia menjelaskan bahwa biang sintetis ini diedarkan oleh pelaku melalui media sosial Instagram.

Kemudian metode pengirimannya dilakukan melalui perusahaan jasa pengiriman barang atau ekspedisi dengan cara dikamuflasekan bersama barang yang lain.

"Peredarannya sendiri sudah sampai ke luar jawa, juga ke Sumatra, ke Sulawesi," kata Harun.

Menurut pengakuan tersangka biang sintetis ini mereka dapat dari China namun, kata Harun, hal itu masih akan dikembangkan lebih lanjut.

"Barang-barang bukti biang sintetis ini masih kita dalami, ada kemungkinan dari China barangnya. Ini masih kita dalami lagi, kita kembangkan lagi," ungkapnya.

Para tersangka ini, kata Harun, dijerat Pasal 114 ayat 2, dan juga 112 ayat 2 UU No. 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan maksimal denda Rp 10 Miliar.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved