Info Kesehatan

Benarkah Covid-19 Tingkatkan Risiko Preeklamsia Ibu Hamil? Ini Penjelasan Dokter

Komplikasi yang terjadi akibat preeklamsia yakni termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati, serta penyakit kardiovaskular

Tayang:
Editor: Tsaniyah Faidah
Pixabay.com
Ilustrasi - Benarkah Covid-19 menyebabkan preeklamsia pada ibu hamil? 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Infeksi Covid-19 seringkali dikaitkan dapat memicu keparahan beberapa penyakit.

Di lain sisi, prevalensi preeklamsia yang bisa meningkatkan risiko kematian ibu dan janin juga terus meningkat.

Preeklamsia adalah gangguan tekanan darah yang hanya terjadi pada kehamilan dan dapat menyebabkan komplikasi.

Komplikasi yang terjadi akibat preeklamsia yakni termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati, serta penyakit kardiovaskular lainnya.

Preeklamsia merupakan penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu dan janin, yang menyumbang 76.000 kematian ibu di dunia setiap tahunnya.

Bahkan, 500.000 kematian janin di dunia setiap tahunnya juga diakibatkan oleh preeklamsia yang dialami ibu saat masa kehamilan.

Baca juga: Satgas Covid-19 Ingatkan Masyarakat Waspada, Disiplin Prokes Jangan Sampai Kendur

Untuk di Indonesia sendiri, meskipun belum ada data keseluruhan secara lengkap tentang preeklamsia yang berimplikasi pada kematian ibu dan janin.

Lalu, apakah Covid-19 juga berpengaruh terhadap preeklamsia pada ibu hamil?

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda, dr Aditya Kusuma mengatakan, dari hasil riset di beberapa rumah sakit di Indonesia cukup menunjukkan bahwa preeklamsia ini prevalensinya juga mengkhawatirkan di tanah air.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, angka kematian ibu akibat hipertensi mencapai 32 persen, dan akibat pendarahan mencapai 20 persen.

Sementara, data dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2015 yang dimuat di Journal of hypertension, dari 2.103 pasien yang ada 18,4 persen mengalami preekalmsia.

Sedangkan, data riset dari 2.003 pasien di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita sekitar 7,5 persennya mengalami preeklamsia.

Aditya mengatakan, meskipun kondisi aspek kesehatan sangat terpengaruh akibat infeksi Covid-19 ini, tetapi sejauh ini belum ada riset yang menunjukkan adanya hubungan antara Covid-19 dan preeklamsia.

"Kabar baiknya adalah Covid-19 itu tidak dikaitkan dengan kejadian buruk pada wanita hamil. Satu-satunya yang pernah diangkat adalah prematuritas (melahirkan prematur)," kata Aditya dalam diskusi daring bertajuk Webinar Roche: Deteksi Dini Preeklamsia untuk Kurangi Risiko Kematian Ibu dan Janin, Selasa (12/10/2021).

Baca juga: Benarkah Air Kelapa Mampu Menetralkan Efek Samping Pasca-Vaksinasi Covid-19? Ini Kata Kemenkes

Namun, isu meningkatnya kelahiran prematur ini bukanlah disebabkan secara langsung oleh infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved