Warisan dari Leluhur, Abah Didih Ungkap Filosofi Gerakan Aliran Silat Cimande

Menurutnya, Silat Cimande memiliki beberapa ciri yang membedakan dengan aliran silat lainnya.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Didih Supriadi selaku pembina Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CARINGIN - Silat Cimande merupakan salah satu aliran ilmu bela diri tertua di Indonesia.

Didih Supriadi selaku pembina Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande mengatakan, aliran pencak Silat Cimande lahir di kampung Tarikolot, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor,” ujarnya kepada TribunnewsBogor.com

"Sudah ada semenjak akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17," kata pria yang akran disapa Abah Didih saat ditemui TribunnewsBogor.com, jumat (15/10/2021).

Menurutnya, Silat Cimande memiliki beberapa ciri yang membedakan dengan aliran silat lainnya.

"Sebenarnya dalam gerakan penca silat itu ada dua filosofi bertahan dan menyerang,” tambahnya.

Lebih lajut ia mengatakan, pada dasarnya setiap gerakan dimulai dari gerakan dasar hingga jurus penuh dengan penuh dengan filosofi.

“Pertama gerakan dasar di penca silat cimande ini sikap untuk gerakan dasarnya itu duduk. Hal itu menjadi ciri khas di aliran penca silat Cimande ini. Maksud dari duduk itu sendiri filosofinya itu sama dengan kehidupan. Kita lahir tidak langsung bisa berdiri, kita kaya tidak langsung kaya. Artinya dari proses dari bawah dulu,” jelas ia.

Ia menambahkan, tujuan tersebut supaya dalam menjalani kehidupan untuk senantiasa ingat dan terus waspada supaya tidak lengah.

Didih Supriadi (53), Salah satu trah (turunan) asli keluarga aliran Penca Cimande sedang mempergakan jurus dasar Silat Cimande.
Didih Supriadi (53), Salah satu trah (turunan) asli keluarga aliran Penca Cimande sedang mempergakan jurus dasar Silat Cimande. (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Kemudian penggunaan jurus di aliran seni bela diri penca silat Cimande ini menurut Didih tetap mengandung filosofi.

“Kemudian untuk jurus pertama itu tonjok bareng dengan menggunakan dua tangan kemudian jurus yang kedua menggunakan satu tangan," kata dia.

Menurutnya, filosofinya itu adalah kita berasal dari dua kemudian jadi satu.

"Kita berasal dari orang tua kita yang bertemu kemudian jadilah kita. Filosofi itu sudah sejak lama kita pertahankan dan tidak ada yang mengubah karena merupakan warisan leluhur,” tambahnya.

Pencak Silat Cimande ini selain untuk mengolah rasa lewat gerakan juga untuk mengolah raga.

“Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, untuk gerakan olahraga kita ambil contoh bermain bulu tangkis. Gerakan severnya itu seperti gerakan ‘selup’. Kemudian untuk gerakan mencangkul pun sama. Para petani tidak mengepal tangannya bersamaan. Akan tetapi, depan satu belakang satu dan kaki kuda-kuda kemudian menarik cangkulnya. Itu namanya gerakan besotan atau tarikan. Filosofi dari semua gerakan ini mengandung makna ,” jelasnya.

Kendati demikian, Abah Didih menjelaskan makna dari keseluruhan filosofi dari gerakan aliran penca silat Cimande ini ditujukan untuk menemukan jati diri yang sejati dan mengandung arti untuk menemukan makna kehidupan yang sebenarnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved