Mengungkap Kawin Kontrak dan Pekerja Seks di Puncak Bogor, Bisa Di Booking Jam-jaman hingga Bulanan
kawasan Puncak, Kabupaten Bogor banyak cerita yang mengiringinya, mulai dari praktik kawin kontrak hingga menjamurnya para pekerja seks komersial.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, PUNCAK - Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor selama ini dikenal sebagai surganya destinasi wisata dan kuliner.
Berbagai pilihan tempat wisata dan tempat kuliner tersedia di kawasan berhawa dingin ini.
Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor juga lekat dengan warga Timur Tengah yang berlibur.
Pada bulan-bulan tertentu, kawasan Puncak mulai dari Gadog hingga kawasan Rindu Alam dipenuhi pelancong asal Timur Tengah.
Dibalik menariknya kawasan Puncak, Kabupaten Bogor banyak cerita yang mengiringinya, mulai dari praktik kawin kontrak hingga menjamurnya para pekerja seks komersial.
Praktik terselubung esek-esek ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan Yayasan Lembaga Kajian Strategis (Lekas).
Yayasan Lekas mencatat 500 wanita pekerja seks komersial ( PSK) tersebar di sejumlah wilayah di Puncak, Kabupaten Bogor.
Ketua Yayasan Lekas, Muksin Zainal Abidin, mengatakan jumlah tersebut berdasar hasil monitoring yang dilakukan pihaknya.
“Saat ini hasil monitoring ada sekitar 500 Wanita Pekerja Seks (WSP) yang berada di Kawasan Wisata Puncak,” ucapnya kepada TribunnewsBogor.com saat ditemui di kantornya di Ciawi, Kabupaten Bogor, Selasa (2/11/2021).
Menurut Muksin, PSK tersebut tersebar mulai dari wilayah Ciawi, Megamendung hingga Kecamatan Cisarua.
Muksin mengatakan pihaknya masih menemukan keberadaan PSK itu di kos-kosan dan kontrakan.
“Bahkan di kos-kosan, dan di kontrakan di beberapa daerah tersebut masih sering ditemukan. Untuk usianya rata-rata masih usia produktif,” tambahnya.
Muksin menerangkan mayorati pekerja seks komersial di Puncak berasal dari Kabupaten Bogor.
Baca juga: Terungkap ! 500 PSK Tersebar di Wilayah Puncak Bogor, Sering Ditemukan di Kosan dan Kontrakan
“Wilayah Kabupaten Bogor dan sekitarnya juga sering ditemukan WSP. Namun, ada juga pendatang dari Sukabumi, dan Cianjur,” katanya.
Menurutnya, bukan soal berapa WSP, justru yang harus menjadi perhatian adalah bahaya penyakit yang ditimbulkan dari pekerjaan itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/kawin-kontrak-puncak.jpg)