Breaking News:

Pasien DBD di RSUD Kota Bogor Alami Penurunan, Dokter Ingatkan Untuk Tetap Waspada

Jumlah pasien terbagi dari wilayah kota dan Kabupaten Bogor dengan rincian 60 persen pasien Kota Bogor dan 40 persen pasien Kabupaten Bogor.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Damanhuri
Tribun Bali
Nyamuk Aedes Aegypty 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bogor jumlahnya cukup banyak.

Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor jumlah pasien DBD sempat mengalami peningkatan.

Jumlah pasien terbagi dari wilayah kota dan Kabupaten Bogor dengan rincian 60 persen pasien Kota Bogor dan 40 persen pasien Kabupaten Bogor.

Adhari Zulkarnain Kasi Pelayanan Medik Rawat Inap mengatakan satu minggu kemarin ada sekitar 17 pasien DBD yang rawat inap.

Namun jumlah tersebut terus mengalami penurunan hingga Jumat (15/12/2021).

"Iya beberapa hari ini justru ada penurunan pasien DBD,  saat ini yang masih dirawat ada tujuh pasien," katanya.

Meski demikian saat ini RSUD Kota Bogor terus menjaga dan meningkatkan kewaspadaan jika sewaktu waktu terjadi lonjakan kasus DBD.

Sementara itu Dinas Kesehatan Kota Bogor mengimbau aparatur wilayah agar melakukan kewaspadaan secara dini dalam mencegah terjadinya peningkatan kasus DBD di masyarakat.

Diantaranya, meningkatkan upaya PSN melalui kegiatan menguras, menutup dan menyingkirkan atau mendaur ulang barang-barang yang dapat menampung air hujan, plus mencegah gigitan nyamuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr Sri Nowo Retno juga meminta peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian vektor nyamuk Aedes Aegypti sesuai Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dengan melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri satu minggu sekali.

Kemudian, meningkatkan surveilans kasus dan surveilan faktor resiko terhadap kejadian KLB, diantaranya melalui Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dan mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

Selanjutnya, mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional Penanggulangan DBD (Pokjanal DBD) pada berbagai tingkatan RT/RW, Desa/Kelurahan dan Kecamatan.

Setelah itu, menggerakkan penerapan PSN pada tujuh tatanan, meliputi tatanan pemukiman, tempat kerja, tempat pengelolaan makanan, sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat umum dan sarana olahraga.

"Lalu, pengasapan menggunakan insektisida hanya mampu membunuh nyamuk dewasa saja dan dapat membahayakan kondisi kesehatan manusia, oleh karenanya tidak dilakukan secara rutin dan bukan strategi utama dalam pencegahan DBD," ujarnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved