Soroti Nasib Ganjar Pascapertemuan Prabowo, Megawati dan Puan, Pengamat: Potensi Dilirik Parpol Lain

Yang jadi pertanyaan, dengan mesranya hubungan PDIP dan Gerindra apakah masih ada kemungkinan Ganjar untuk maju jadi capres?

Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Damanhuri
Kolase
Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Puan Maharani 

Satu di antaranya kata dia terkait dengan pelaporan Hasto mengenai Kuliah Umum yang disampaikan Prabowo di Universitas Parahyangan.

"Hal ini mengingat Ibu Megawati sebagai guru besar dari Universitas Pertahanan juga menaruh perhatian besar terhadap pertahanan, dan temanya pas dengan momentum pelantikan Panglima TNI dan KASAD," beber Hasto.

Tak hanya itu, Puan Maharani juga terlibat dalam diskusi tersebut yang menurut Hasto menambah kehangatan dalam diskusi tersebut.

Singkatnya kata Hasto, ketiganya mendiskusikan terkait perkembangan politik kebangsaan dan dinamika politik nasional.

"Mbak Puan Ketua DPR RI beberapa saat kemudian bergabung. Dan disitulah pembahasan berlangsung hangat. Tentu saja terkait politik kebangsaan, dan berbagai dinamika politik nasional," tukas Hasto.

Baca juga: Mantan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo Dapat Tugas dari Megawati, Ganjar Pranowo : Bagus Itu

Baca juga: Golkar Ingin Pasangkan Ganjar dengan Airlangga, PDIP Respon Santai : Dia Tidak Tertarik

Dikritik Andi Mallarangeng

Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng, memberikan tanggapannya terkait pertemuan Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, dan Puan Maharani di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Andi pun membandingkannya dengan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono yang menurutnya tak pernah menggunakan Istana Kepresidenan untuk menggelar pertemuan politik dengan petinggi partai.

"Kalau di zaman Pak SBY, kegiatan politik kepartaian biasanya dilakukan di Cikeas," kata Andi, dilansir Kompas.com, Senin (22/11/2021).

Andi juga merasa heran, mengapa pertemuan agenda politik tersebut bisa terjadi di Istana Negara, tanpa adanya Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bahkan Andi menyebut jika presiden saja tidak pantas melakukan pertemuan politik kepartaian di Istana Presiden.

"Bagaimana mungkin ada orang-orang yang bukan presiden menjabat, melakukan pertemuan politik kepartaian di Istana Presiden. Presiden saja tidak pantas melakukannya. Apakah sudah mendapat izin Presiden?" ungkap Andi.

Lebih lanjut Andi menerangkan mengapa Istana tidak boleh digunakan untuk pertemuan politik kepartaian.

Hal itu dikarenakan, Istana Negara dan Istana Merdeka adalah simpol Lembaga Kepresidenan.

Sehingga sejak dulu Istana Kepresidenan tidak pernah digunakan untuk agenda politik kepartaian.

Baca juga: Dapat Kaos Bergambar Banteng Celeng dari Para Kader, Ganjar: Ngawur Wae

Baca juga: Belum Antusias Dipasangkan dengan Ganjar di Pilpres 2024, Airlangga: Belum Saatnya

"Di situ Presiden RI berkantor, dan melakukan aktivitas kenegaraan. Sekaligus bisa juga menjadi tempat kediaman," terangnya.

Andi menambahkan, biasanya jika presiden akan mengadakan pertemuan politik kepartaian maka akan digelar di Wisma Negara, yang berada di samping Istana Negara dan Istana Merdeka.

(TribunnewsBogor.com/WartaKotalive.com/Tribunnews.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved