IPB University
Pakar IPB University Beberkan Tips Rekayasa Genetika Bagi Peningkatan Komoditas Ikan
metode rekayasa yang cukup rumit yakni persilangan DNA untuk menghasilkan keturunan dengan kriteria yang diinginkan.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Prof Alimuddin, Ketua Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University menjadi narasumber dalam Estuary Talks Series ke-8 berjudul “Rekayasa Genetika untuk Peningkatan Produksi”.
Guru Besar Ahli Genetika Ikan di Indonesia ini berbagi pengetahuan kepada mahasiswa terkait rekayasa genetika pada ikan.
Rekayasa genetika umumnya dimanfaatkan untuk mengubah karakteristik ikan sesuai dengan keinginan atau permintaan pasar.
Misalnya untuk percepatan panen, baik dengan metode konvesional maupun modern.
Menurutnya, teknik rekayasa genetika yang paling sederhana yakni pemilihan atau seleksi individu dan massa ukuran ikan terbaik.
Sedangkan metode rekayasa yang cukup rumit yakni persilangan DNA untuk menghasilkan keturunan dengan kriteria yang diinginkan.
Ia mencontohkan, agar pertumbuhan ikan lebih cepat dan tahan penyakit, biasanya dilakukan dengan seleksi marka DNA dengan cara mengektraksi DNA dari bagian sirip ikan.
Metode ini cenderung membutuhkan sumberdaya yang besar.
“Hasil rekayasa genetika yang banyak ditemui. Contohnya bisa dilihat pada ragam motif dan warna ikan cupang hingga berbagai jenis rumput laut dan alga. Tujuan umumnya untuk peningkatan produksi dan keuntungan yang lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, teknik rekayasa genetika juga dapat menghasilkan ikan transgenik.
Caranya dengan memasukkan gen dengan karakter yang diinginkan. Seperti gen imunitas dan pertumbuhan yang terbaik.
Ia menyebutkan untuk terjun ke bidang pemuliaan ikan, kita harus memahami terlebih dahulu biologi dan prinsip dasar dalam metode pemuliaan.
“Rekayasa genetika sebenarnya dapat dilakukan sederhana di rumah. Namun kesulitannya tergantung jenis ikan. Biasanya dapat diterapkan pada ikan yang belum memijah. Metodenya relatif sederhana yakni dengan bahan kimia komersial dicampur dengan telur,” jelasnya.
Tentu saja, lanjutnya, metode sederhana ini juga harus sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia.
Misalnya, gen yang ditransfer harus menguntungkan untuk budidaya dan dapat memperbaiki kualitas ikan. Gen juga tidak boleh menyandikan protein berbahaya bagi manusia. Serta bukan dari organisme yang tidak boleh dimakan oleh suku, agama, dan etnik tertentu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/prof-alimuddin.jpg)