Aksi Mahasiswa UIKA Depan Istana Bogor : Tuntut Jokowi Evaluasi Kabinet dan Tolak 3 Periode Presiden
Mahasiswa UIKA Bogor menyampaikan sejumlah tuntutannya saat unjuk rasa di depan Istana Bogor, Sabtu (9/4/2022)
Penulis: Reynaldi Andrian Pamungkas | Editor: Yuyun Hikmatul Uyun
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Reynaldi Andrian Pamungkas
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Ratusan aparat gabungan dari kepolisian dan TNI menghadang massa demonstrasi mahasiswa UIKA di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, sore tadi.
Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro mengatakan bahwa pengamanannya masih sama dengan hari Jumat (8/4/2022) kemarin.
"Ada 500 personil gabungan yang siap menghadang mahasiswa," ucapnya kepada TribunnewsBogor.com, Sabtu (9/4/2022).
Dalam hal ini, aksi yang yang dilakukan digelar di Jalan Jenderal Sudirman, yang di mana jalan tersebut langsung menuju gerbang utama dari Istana Bogor.
Rekayasa lalu lintas pun diterapkan ketika terjadi penutupan jalan karena pagar kawat yang dibentang.
Akses jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan ketika ditutup hanya melalui Jalan Sawo Jajar saja.
Baca juga: Unjuk Rasa di Depan Istana Bogor, Mahasiswa UIKA Diadang 500 Personel Aparat Gabungan
Tuntutan Mahasiswa
Aksi demonstrasi mahasiswa UIKA Bogor di depan Istana Bogor berlangsung hingga malam tadi pukul 19.30 tadi, Sabtu (9/4/2022).
Mahasiswa UIKA masih memilih bertahan di jalan meski batas waktu penyampaian aspirasi telah terlampaui pada pukul 17.30 WIB.
Bahkan para massa aksi itu melakukan buka bersama dan sholat magrib berjamaah di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor.

Usut punya usut, mahasiswa UIKA melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut sejumlah hal.
Para mahasiswa meminta agar pagar kawat yang dibuat polisi dapat dibuka.
Dalam hal ini, ratusan mahasiswa UIKA bersikukuh untuk bisa menggelar aksinya tepat di depan gerbang Istana Bogor, yang di mana area tersebut tidak diperbolehkan oleh pihak kepolisian.
Baca juga: Ogah Geser, Mahasiswa UIKA Bogor Lakukan Salat Magrib di Tengah Jalan
Pantauan wartawan TribunnewsBogor.com, setelah berbuka puasa, mahasiswa UIKA membakar ban di depan pagar kawat.
Hal tersebut menjadi penutup untuk bubarnya mahasiswa UIKA Bogor dan menyampaikan tuntutannya yaitu, menolaknya penundaan pemilu dan kepemimpinan presiden menjadi tiga periode.
Lalu tuntutan lainnya, harga minyak goreng yang terus naik dan menjadi langka, serta harga naiknya BBM Pertamax, yang di mana hal tersebut dapat mempengaruhi naiknya PPN.

Selain itu, dengan lantangnya Koordinator Lapangan Mahasiswa UIKA, Dimas mengatakan bahwa akan menggeruduk kembali Istana Bogor bila tuntutannya tidak terpenuhi.
"Ini bukan akhir, tapi ini awalnya, kami akan kembali dengan massa yang lebih banyak," katanya dengan pengeras suara.
Dalam hal ini, mahasiswa UIKA Bogor juga menuntut dan menyatakan sikap agar Presiden Joko Widodo untuk dapat mengevaluasi jajaran dan kabinetnya agar bertanggungjawab dalam memastikan ketersediaan komoditas kebutuhan rakyat, seperti bahan pangan dan pokok yang murah bagi rakyat.
Lalu, demonstrasi juga menuntut dan mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar tidak menjadi penghianat amanat reformasi dengan alasan apapun, seperti wacana pengunduran pemilu dan perpanjangan masa jabatan tiga periode.
Serta, menuntut dan mendesak Presiden Joko Widodo agar mengkaji ulang harga BBM jenis Pertamax dan menolak keras kenaikan harga Pertalite serta Gas Elpiji tiga kilogram.
Sementara itu, Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menambahkan bahwa saat ini masih dalam tahap negosiasi dengan pihak mahasiswa.
"Aksi ini berusaha untuk menyampaikan aspirasi bukan memaksakan aspirasi, jadi dimohon untuk bubar dan buka puasa di rumah," pungkasnya.(*)