Demo Mahasiswa

Puji Orba Lebih Sejahtera, Koordinator BEM SI Kaget Disemprot Hotman Paris: Belajar Sama Senior !

Sebab, sebagai mantan aktivis tahun 98, Masinton Pasaribu menilai pandangan mahasiswa Universitas Riau ini perlu diluruskan.

Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Soewidia Henaldi
Youtube metrotvnews
Pernyataan Koordinator BEM SI, Kaharuddin soal perbandingan kebebasan dan kesejahteraan di masa orde baru dan saat ini justru jadi bumerang. 

"Ya silahkan dilihat kembali visi misinya, janji-janjinya," jawab Kaharuddin.

Mendengar jawaban itu, Hotman Paris pun makin mencecar Kaharuddin.

"Ya itu apa? Anda masih ingat enggak apa? Kan Anda menuntut, Anda harus tahu donk," kata dia.

Barulah Kaharuddin membandingkan soal kesejahteraan di masa orde lama, orde baru dan saat ini.

"Tentang kesejahteraan, hari ini contoh misalnya di orde lama, kita peroleh yang namanya kebebasan tapi kesejahteraan tidak, orde baru kita peroleh kebebasan, kesejahteraan kita punya. Hari ini yang ingin kita tanyakan adalah, apakah kita peroleh kesejahteraan? apakah kita peroleh kebebasan?," tanya Kaharuddin.

"Jadi menurut Anda gimana?," tanya Hotman Paris lagi.

"Ya dikatakan peroleh, belum merata kan, tentang pertumbuhan ekonomi masih ada," kata dia.

"Jadi janji kampanye yang Anda tuntut adalah kesejahteraan dan kebebasan?," tanya Hotman Paris.

"Kebebasan, bagaimana kita mahasiswa melakukan demonstrasi, ini yang lebih disorot adalah kerusuhan dan kericuhannya," jelas Kaharuddin.

Baca juga: BEM SI Bakal Unjuk Rasa Soal Presiden 3 Periode, Adian Napitupulu Heran: Kenapa Jokowi yang Didemo?

Baca juga: Hari Senin BEM SI Bakal Demo Besar-besaran Tagih Janji Jokowi, Mahasiswa Tuntut 6 Polemik Bangsa

Mendengar pernyataan itu, Masinton Pasaribu pun tak tinggal diam.

"Sebentar, karena tadi kan Anda bilang zaman orde baru, kebebasan ada, kesejahteraan ada. Itu saya rasa, tolong diralat," kata Masinton.

"Orde baru itu tidak ada yang namanya kebebasan, kesejahteraannya semu gituloh. Jadi maksud saya teman-teman mahasiswa juga harus objektif. Karena kebebasan tidak ada dalam masa orde baru, makanyalah kami dan teman-teman tahun 97-98 menentang itu, memperjuangkan adanya demokrasi," jelas Masinton lagi.

"Jadi kayaknya mahasiswa ini perlu belajar dari yang senior," kata Hotman Paris.

Namun Kaharuddin pun tampaknya punya pandangan tersendiri.

"Terkait tentang hal tersebut, ya memang abang-abang di aktivis 98 punya sejarah, dan saat ini mahasiswa di tahun ini dia mengukir sejarah sendiri," kata Kaharuddin.

"Ya tapi kan Pak Masinton sudah membantah, jadi perlu belajar sama senior ya," kata Hotman Paris lagi.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved