IPB University

Dewan Guru Besar IPB University Undang Para Perempuan Bicara Diplomasi Pertanian

Indonesia masih menempati posisi ke-103 dari 162 negara untuk kesetaraan gender. Bahkan posisi Indonesia di ASEAN yaitu terendah ketiga.

Editor: Tsaniyah Faidah
Dokumentasi Humas IPB University
Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Duta Besar RI untuk India dan Bhutan 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Dewan Guru Besar (DGB) IPB University menyelenggarakan webinar spesial dengan tema Perempuan Bicara Diplomasi Pertanian, Kamis (21/4/2022).

Ketua DGB IPB University, Prof Evy Damayanti dalam sambutannya mengatakan Hari Kartini menjadi pengingat pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia masih menempati posisi ke-103 dari 162 negara untuk kesetaraan gender. Bahkan posisi Indonesia di ASEAN juga tidak terlalu menggembirakan, yaitu terendah ketiga.  

“Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk melakukan upaya yang positif, seperti webinar ini untuk menunjukan kiprah perempuan khususnya dalam diplomasi pertanian,” katanya.

Ia menambahkan, parameter yang menunjukkan kiprah perempuan di berbagai sektor penting masih perlu didorong.

Tujuannya agar terjadi peningkatan yang signifikan atas keterwakilan perempuan dalam berbagai posisi penting di pemerintahan, akademisi maupun swasta.

Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Duta Besar RI untuk India dan Bhutan mengatakan diplomasi pertanian setidaknya menghadapi tiga isu penting, yakni ekonomi-politik, lingkungan dan tekanan domestik internasional serta hubungan aktor negara dan non negara.

“Webinar ini bisa menjadi contoh diplomasi ekonomi tersebut. Dan bahwa fokus pada perempuan sebagai salah satu elemen dalam bidang pertanian dan diplomasi pertanian memiliki nilai yang sangat penting dalam dinamika hubungan internasional,” terangnya.

Menurutnya, sektor pertanian khususnya komoditas pertanian tidak hanya dilihat dari isu ekonomi namun juga isu politik.

Pandemi COVID-19 diperkuat dengan konflik Ukraina-Rusia membuat dinamika ekonomi global, terlebih di sektor pertanian, menjadi tidak pasti.

Diplomasi di sektor pertanian tidak bisa lagi hanya dilihat dari sisi persaingan ekonomi. Tetapi juga kekuatan politik negara-negara yang ujungnya adalah melindungi kepentingan negara masing-masing.

Ia mengatakan bahwa di tengah dinamika global saat ini, diplomasi pertanian berbasis kegiatan ekonomi tradisional seperti ekspor, impo, dan investasi, ini masih belum cukup.  

“Di tengah ketidakpastian global saat ini, diplomasi pertanian dan diplomasi secara umum adalah suatu upaya mendorong kerjasama yang harus bersifat out of the box bahkan kalau perlu without a box,” tegasnya.

Ia mengatakan, jutaan petani kecil bergantung pada upaya Indonesia berkolaborasi dengan negara lain agar tidak kehilangan pendapatan.

Ketahanan pangan ratusan juta penduduk Indonesia juga bergantung pada kegiatan pertanian yang berkelanjutan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved