Dijual Sepupu ke Malaysia, Wanita Asal Aceh Merana Bertahun-tahun, Begini Kondisinya

Kini tak ada lagi yang harus dikhawatirkan wanita yang berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Penulis: yudistirawanne | Editor: Soewidia Henaldi
Shutteras.comstock via Komp
ILUSTRASI Penganiayaan 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - WD (34) kini sudah tak merasakan sakitnya penyiksaan dari sang majikan.

Kini tak ada lagi yang harus dikhawatirkan wanita yang berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Penyiksaan yang didapat selama bekerja di Malaysia jangan sampai terulang.

Sebenarnya, bekerja sebagai TKI di Malaysia bukanlah kemauan WD.

Hanya saja WD ditipu oleh sepupunya.

Sepupunya itu tega menjual saudaranya hingga ke Malaysia.

WD merupakan warga asal Kabupaten Pidie, Aceh yang bekerja di Malaysia.

Perempuan itu menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) yang diduga dijual oleh sepupunya sendiri.

Bahkan, ia juga mendapat penyiksaan dari majikannya selama bertahun-tahun bekerja di negeri jiran tersebut.

Baca juga: Jadi TKI, Suami Syok Lihat Istri Beradegan Ranjang dengan Pria Lain, Video Dikirim Selingkuhan

Dilindungi KBRI

Ketua Sosialisasi Ummah Bansigom Aceh (SUBA), Tgk Bukhari Ibrahim memberikan kabar terbaru mengenai WD.

Tgk Bukhari mengatakan, saat ini WD sudah berada di bawah perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.

“Sudah kita laporkan ke KBRI di Kuala Lumpur dan akan digali informasi lebih lanjut tentang apa yang dialami gadis tersebut,” ujarnya dikutip dari Serambi, Selasa (31/5/2022).

Lebih lanjut Tgk Bukhari menjelaskan, WD menjadi korban perdagangan manusia yang dilakukan oleh kakak sepupunya sendiri kepada sebuah agen.

Kasus itu terjadi 11 tahun lalu atau tepatnya pada 2011 silam.

Baca juga: Curhat Pilu TKI Bandung di Malaysia, Tiap Hari Alami Muntah Darah, Kini Minta Pertolongan

Kronologi

Mulanya, korban dijanjikan oleh kakak sepupunya bekerja di Lhokseumawe atau Langsa.

Namun, pelaku malah membuatkan paspor untuk WD di Lhokseumawe dan kemudian dibawa ke Malaysia menggunakan kapal feri.

“Dari Sigli, dia diserahkan ke agen yang ada di Lhokseumawe untuk dibuatkan paspor.

Setelah itu dibawa ke Medan dan pergi naik feri,” kata Tgk Bukhari.

Selama di Malaysia, WD bekerja di Melaka, kota yang terletak 150 kilometer dari Ibukota Kuala Lumpur.

Baca juga: Kisah Pilu Gadis Korban Pembunuhan di Garut, Ayah Wafat, Ditinggal Ibu Jadi TKI Sejak Umur 1 Tahun

Selama bekerja di sana, korban mendapat penyiksaan oleh majikannya selama 10 tahun.

Kepada Ketua SUBA, Tgk Bukhari, korban mengaku hanya bekerja pada majikan tersebut.

Korban mengaku, selama bekerja di Melaka, ia ditampar dan dipukuli oleh majikan hingga hidungnya mengeluarkan darah.

WD juga harus kehilangan sejumlah giginya akibat dipukul dengan sepatu.

“Di Melaka ada (dipukul), dengan sepatu ke muka sampai-sampai berdarah.

Setiap hari,” aku korban kepada Tgk Bukhari.

Bahkan, di kakinya juga terdapat banyak bekas luka akibat kekerasan yang dilakukan sang majikan.

Tgk Bukhari mengungkapkan, korban kemudian lari dari tempatnya bekerja yang dibantu oleh seorang sopir taksi.

WD kemudian diserahkan kepada warga Malaysia keturunan India yang berada di Kuala Lumpur.

Di sana, korban di rawat dan dijaga selama setahun sembari mencari komunitas relawan masyarakat Aceh di Kuala Lumpur.

“Dia dijaga sebaik mungkin, sambil mencari orang Aceh di sana untuk dibawa pulang ke kampung,” kata Tgk Bukhari.

Namun, baru pada Minggu (29/5/2022) warga keturunan India itu dapat bertemu dengan komunitas masyarakat Aceh di Malaysia.

Baca juga: Kisah Pilu Dibalik Tewasnya Mantan TKI Asal Ponorogo, Mulutnya Berbusa Setelah Dikasih Air Kelapa

Korban bahkan sudah dianggap meninggal oleh keluarganya karena selama 11 tahun tidak ada kabar sama sekali.

Kendati demikian, Tgk Bukhari mengatakan saat ini korban sudah terhubung dengan keluarganya di Kabupaten Pidie.

Ditanya apakah WD dapat segera pulang ke kampung untuk bertemu keluarganya, Tgk Bukhari belum bisa memastikan hal tersebut.

Sebab, KBRI masih membutuhkan informasi akurat dan penulusuran mendalam serta keterangan korban.

Nanti KBRI akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait masalah ini untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.

“Dalam dua atau tiga hari ini, kita akan mengetahui hasil dari KBRI di Kuala Lumpur.

Apakah korban bisa pulang ke Aceh atau akan tetap sini untuk melaporkan majikannya,” ungkap Tgk Bukhari.

(SerambiNews.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved