Pergeseran Tanah di Bogor

BPBD Kabupaten Bogor Usulkan Moratorium Pembangunan di Desa Bojong Koneng Bogor

wilayah tersebut pada (12/9/2022) mengalami pergeseran tanah yang mengakibatkan belasan rumah penduduk dan akses jalan desa mengalami kerusakan.

Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Yani Hassan masih tunggu rekomendasi hasil analisa badan geologi untuk relokasi korban pergeseran tanah di Babakan Madang, Kabupaten Bogor (22/9/2022) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, usulkan pemerintah daerah untuk mengatur pembangunan yang berada di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Seperti diketahui, wilayah tersebut pada (12/9/2022) mengalami pergeseran tanah yang mengakibatkan belasan rumah penduduk dan akses jalan desa mengalami kerusakan.

Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Yani Hassan mengatakan, selain memasang rambu pada zona yang dianggap berbahaya agar masyarakat bisa menghindari area tersebut.

Pihaknya akan memberikan masukkan kepada kepala daerah untuk membuat kebijakan terkait pembangunan di wilayah tersebut, dikarenakan masih adanya potensi pergerakan pada wilayah tersebut.

Baca juga: Tinggal di Tenda Pengungsian, Petugas BPBD Bogor Hingga Warga Bojong Koneng Kini Jatuh Sakit

Baca juga: Peneliti PVMBG Sebut Pergeseran Tanah di Bojong Koneng Bogor Akibat Tak Ada Resapan Air

Hal tersebut disampaikannya usai melakukan diskusi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di gedung BPBD Kabupaten Bogor.

"Untuk lebih mengantisipasi kami mengusulkan ke pimpinan untuk moratorium terhadap pembangunan-pembangunan yang akan dilaksanakan," ujarnya kepada wartawan, Jumat (23/9/2022).

Menurutnya, moratorium tersebut bertujuan untuk menghindari dan pencegahan akibat dari pembukaan lahan yang bisa menyebabkan pergeseran tanah.

Lebih lanjut, Yani Hassan mengungkapkan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan di wilayah tersebut.

"Untuk selanjutnya teman-teman dari BRIN, dari Vulkanologi akan tetap memantau, menginvestigasi karena ini juga harus ditindak lanjuti, tidak cukup sekedar melihat dalam satu dua tiga hari ini," tandasnya.

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved