Momen Hari Pahlawan, Kisah Perempuan Paruh Baya di Bogor Berjuang Lewat Jas Hujan

Seorang pahlawan memang dimaknai sebagi orang-orang besar yang terlah berjasa memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Yudistira Wanne
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Siti (50) warga asal DKI yang mengontrak rumah di Cilebut, yang berjuang untuk bebas dari keterbelengguan ekonomi, Kamis (10/11/2022). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Seorang pahlawan memang dimaknai sebagi orang-orang besar yang terlah berjasa memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kata 'Pahlawan'  juga dilabeli kepada mereka yang telah berhasil bahkan yang telah gugur di medan perang saat berjuang.

Momen hari pahlawan 10 november pun menjadi momen yang sakral bagi setiap kalangan instansi maupun bukan.

Momen ini kerap dijadikan dan dianggap sebagai momen untuk merenung, mendoakan, dan berterimakasih atas jasa-jasa orang yang telah dilabeli sebagai 'Pahlawan'.

Sebab, jika tidak ada pahlawan, mustahil kita bisa bebas dari keterbelengguan jajahan negara luar.

Jika dilihat sepintas, kata pahlawan yang selalu dilabeli kepada orang-orang besar ini bisa juga dilabeli kepada orang-orang yang berjuang untuk kehidupannya.

Bagaimana cara mereka menjalani hidup, mencoba terbebas dari keterbelengguan kemiskinan, dan mempertahankan kehidupannya nampaknya layak dilabeli sebagai seorang pahlawan.

Seperti halnya Siti (50) warga asal DKI Jakarta yang memilih hidup sederhana di Kota Bogor.

"Dulu saya tinggal di Cikini. Rumah saya kena penggusuran. Terus pindah ke Cilebut sama suami. Ngontrak juga rumahnya," kata Siti saat dijumpai TribunnewsBogor.com di sekitaran Jalan Ir H Djuanda.

Saban hari, dirinya mencoba terbebas dari keterbelengguan perekonomiannya dengan berjualan jas hujan di Kota Bogor.

"Saya jualan jas hujan semenjak 2013 lalu. Saat itu juga saya pertama kali datang di Kota Bogor. Biar apa saya gini? Biar bisa makan dan hidup," ungkapnya.

Label 'Kota Hujan' yang disandang Kota Bogor pun benar-benar dimanfaatkan oleh Siti untuk mengais rezeki.

Dibalik itu semua, Siti rela berjualan jas hujan yang untungnya 'kadang-kadang' lantaran tidak ingin merepotkan anaknya yang dia sebut sudah bekerja.

Suatu usaha yang besar dilakukan Siti agar bisa mempertahankan hidup sekaligus terbebas dari ketergantungan.

"Anak saya satu. Memang sudah bekerja. Gajinya juga lumayan. Tapi, itu kan buat dia. Saya dikasih syukur ga dikasih gapapa. Mankanya saya gamau ngerepotin. Saya milih jualan gini aja. Biar anak juga cukup dengan gajinya," ungkapnya.

Dengan mengontrak rumah di daerah Cilebut, Siti sampai saat ini, merasa hidup dalam kondisi yang bahagia meskipun mengandalkan kesehariannya dari jualan jas hujan.

Dia mengingatkan, tidak ada yang harus disesali dari jualan jas hujan yang untungnya 'kadang-kadang' itu.

Dimanampun mau berusaha, kata Siti, kebahagian selalu mengikuti meskipun sederhana.

"Saya bahagia. Kontrakan juga selalu terbayar. Alhamdulilah cukup dan bahagia. Intinya saya bersyukur aja," katanya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved