IPB University
ESL IPB International Summer Course 2022 Kembali Digelar, Undang Tiga Pembicara Kunci Ternama
Kegiatan internasional ini mengundang 15 pembicara dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University kembali menggelar ESL IPB International Summer Course 2022, (14-30/11).
Kali ini dengan tema “Reducing Carbon Footprints: Lesson Learned for Post Covid-19 World”.
Kegiatan internasional ini mengundang 15 pembicara dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Sejumlah 233 mahasiswa IPB University maupun mahasiswa dari berbagai negara sangat antusias bergabung dalam summer course ini.
Prof Dodik Ridho Nurrochmat, Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Kerjasama, dan Hubungan Alumni IPB University dalam sambutannya mengatakan tema ini diangkat mengingat salah satu outbreak pandemi COVID-19 adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Dengan kembali meningkatnya aktivitas ekonomi, emisi karbon kembali meningkat.
“Pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk melindungi kesehatan umat manusia ke depannya dan sejalan dengan perjanjian Paris. Caranya melalui mitigasi perubahan iklim bersama pemerintah, perguruan tinggi, swasta, hingga individu dalam upaya mengurangi jejak karbon,” ungkapnya.
Prof Emil Salim, Ekonom Senior yang pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menjadi salah satu narasumber kunci.
Ia mengatakan, sejak tahun 1986 hingga kini Indonesia masih terjebak dalam pusaran kemiskinan walau sudah memiliki target Indonesia Emas 2045.
Permasalahan ini dinilai masih terjadi karena tantangan perubahan iklim.
“Pilihan antara isu pembangunan dan perubahan iklim saling tumpang tindih. Sumberdaya alam Indonesia makin berkurang, di sisi lain perkembangan industri masih tertinggal,” katanya.
Menurutnya, dalam mencapai target 2045 ini, kita membutuhkan industri yang lebih ramah lingkungan, namun membutuhkan investasi dan inovasi teknologi.
“Kita harus melihat pembangunan secara dinamis dalam menghadapi isu polusi, konsumsi batu bara, dan sebagainya di samping perubahan iklim yang terus bergejolak. Selain itu, persoalan sanitasi dan air minum bersih harus segera ditangani,” lanjut Prof Emil.
Basuki Tjahaja Purnama MM, Komisaris Utama PT Pertamina turut menuturkan bahwa konsumsi batubara memang tidak bisa dihindari.
Perkembangan teknologi dan digitalisasi yang semakin pesat membutuhkan energi yang lebih besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Summer-course-2022.jpg)