IPB University

Beri Edukasi Literasi Media Digital, SV IPB University Gelar Seminar Bertajuk Zilenial Society

Hal itu juga yang mendorong Gramedia Digital Kompas meluncurkan sebuah trobosan perpustakaan digital untuk memudahkan masyarakat, dari yang semula

TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Seminar tentang literasi media digital di era society 5.0 dengan tajuk Zilenial Society di Gedung Auditorium FEM IPB University, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Sabtu (3/12/2022) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Sekolah Vokasi IPB Univesity mengadakan seminar tentang literasi media digital di era society 5.0 dengan tajuk Zilenial Society.

Acara yang diselenggarakn di Gedung Auditorium FEM IPB University ini, turut mengundang Account Excecutive Business in Gramedia Digital Kompas Ferel Ivandi Hutagalung dan Ceo NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradhipa sebagai pembicara dalam acara tersebut.

Show Director mahasiswa SV IPB University, Gustiar Hermawati menjelaskan, tujuan digelarnya acara tersebut adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan media digital agar bisa dioptimalkan pada zaman yang semakin berkembang pesat tekhnologinya.

"Karena di zaman sekarang ini digital itu sudah in banget, tapi orang-orang masih belum bisa memanfaatkannya dengan baik, kita merasa perlu memberikan pemahaman terhadap masyarakat tentang pemanfaatan digital dan mencegah kebocoran data pribadi," ujarnya kepada TribunnewsBogor.com, Sabtu (3/12/2022).

Menurut Account Excecutive Business in Gramedia Digital Kompas Ferel Ivandi Hutagalung, pada era media digital seperti saat ini, dibutuhkannya sebuah transformasi untuk memudahkan jangkauan masyarakat untuk mendapatkan sebuah informasi.

Baca juga: Tampilkan Puluhan Musisi Terkenal, Kompas Gramedia Gelar Konser Amal Gempa Cianjur di Bentara Budaya

Hal itu juga yang mendorong Gramedia Digital Kompas meluncurkan sebuah trobosan perpustakaan digital untuk memudahkan masyarakat, dari yang semula harus pergi ke suatu tempat untuk mencari buku yang diinginkan, kini bisa dengan mudah mengakses buku tersebut kapanpun dan di manapun.

Dengan aplikasi perpustakan digital itu pula yang menjadikan masyarakat tidak kehilangan minat bacanya karena semua bisa diakses dengan mudah menggunakan smartphone.

"Dari segi kami pribadi dari Kompas, yaitu literasi membaca yang kami tekankan disana, dengan memanfaatkan Gramedia Digital Kompas salah satu aplikasi pembaca buku yang sangat luas sekali, untuk meningkatkan wawasan mereka dengan kumpulan buku e-book yang sangat banyak," kata Ferel Ivandi Hutagalung.

Di tengah literasi pembaca di negara berkembang ini yang masih kurang, ia memberikan sebuah tips yang dapat menggugah minat baca seseorang agar tidak terbuai akan kehidupan di dunia maya.

"Mereka hanya butuh tau apa yang mereka inginkan kedepannya, itu aja, apa impian mereka apa cita-cita mereka, ketika mereka tau ingin profesinya seperti ini, ingin pekerjaan seperti ini apa yang harus diakukakan? Meningkatkan wawasan, tentu dengan sharing dengan orang dan membaca buku," kata dia.

Disamping itu, berdasarkan analisa berbasis data yang dilakukan NoLimit Indonesia, terjadi peningkatan terkait komentar-komentar negatif di media sosial sejak kurun waktu dua bulan terakhir.

Menurut Ceo NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradhipa, dibutuhkannya perhatian khusus menjelang tahun politik yang tak lama lagi.

Baca juga: Kompas Gramedia Peduli Anak-anak dan Pelajar Terdampak Erupsi Gunung Semeru

Dari analisanya, akan banyak lagi hal-halnyang bisa berdampak negatif jika tidak disikapi oleh kesadaran etika dan budaya digital yang baik, dengan didorong undang-undang yang mengaturnya seperti UU ITE dan UU PDP.

Ia juga memberikan cara agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan giringan opini yang terjadi di media sosial maupun di media massa dalam sebuah problematika.

"Pertama secara konten itu harus masuk ke logika kita, kedua kita pastikan dari sumber yang terpercaya, ketiga jangan-jangan itu seolah-olah screenshot dari portal berita padahal itu tidak ada, harus kita kroscek dengan portal berita lainnya," katanya.

Bahkan, untuk memperkuat etika digital ini, kata Aqsath Rasyid Naradhipa, diperlukan juga pembelajaran ditingkat dasar untuk mengubah habbit masyarakat agar bisa berjalan berdampingan dengan era digital saat ini dan yang akan datang.

"Ini masalahnya habbit, yang mana sebenernya kalau menurut saya etika digital itu harus dimasukkan ke ajaran dasar, karena menurut saya orang yang lahir sekarang sudah di era digital, kalau mereka tidak bisa mengamankan dirinya di era digital, mereka tidak paham etika digital agak repot, sehingga ini harus ada trobosan baru juga dipendidikan," tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved